Sabtu, 08 Agustus 2015
Yang Tertekan, Yang Bertahan
18.02
No comments
Kondisi bisnis broiler (ayam pedaging) saat ini diibaratkan oleh Syaiful Bur sedang berperang melawan musuh yang bersenjata lengkap. Dan siasat bertempur yang dia tempuh agar tetap selamat adalah dengan sembunyi, alih-alih lari meninggalkan medan pertempuran. “Tidak perlu lari meninggalkan musuh, cukup bersembunyi asal tidak kena tembak. Masih dapat melihat musuh dan siap jika ada kesempatan datang,” ujar peternak senior yang kandangnya banyak di daerah Bekasi, Jawa Barat ini menjelaskan strateginya kepada TROBOS Livestock.
Harga livebird (ayam hidup) cenderung tertekan sejak 2012. Harga ayam di bawah harga pokok produksi (HPP) yang berkepanjangan dialami seluruh peternak di Indonesia. Dan sebagian peternak mulai berpikir ulang meneruskan usahanya.
Tetapi Syaiful Bur, adalah salah satu yang yakin mempertahankan usahanya, meski harus melakukan berbagai manuver untuk penyelamatan. Saat ditemui di kediamannya di Jakarta Pusat, pria yang beternak mulai 1982 ini mengatakan, sejak awal ia beternak suplai DOC (ayam umur sehari) adalah faktor utama yang berperan dalam fluktuasi harga ayam. Dan saat ini, menurut dia, dampak nyata dari over supply DOC adalah harga jual ayam saat panen yang senantiasa jeblok.Disinyalir, DOCberlebih 1,5 juta ekor tiap minggunya dari kebutuhan nasional.Kondisi ini akan berbeda apabila perusahaan besar yang memiliki budidaya mengekspor broiler hasil budidayanya.
Kondisi buruk selama 2 tahun harga jual ayam hidup di bawah HPP mengakibatkan peternak harus menyubsidi usahanya. Dengan asumsi harga DOC Rp 4.000 Syaiful mematok kisaran HPP usahanya saat ini Rp 14.500 – 15.000 per kg. Dan agar untung, harga jual semestinya di level Rp 16.000. Apa lacur, harga terkini berkisar Rp 14.500 – 15.500 per kg (4/15). “Sepanjang 2013, bisa dibilang tidak ada keuntungan. Cukup untuk membayar anak kandang dan sapronak yang diperlukan,” tutur Syaiful.
Zulham Ariansyah, salah satu peternak Bogor juga menyatakan, usaha broiler kini makin buruk dan tidak menunjukkan perbaikan. “Katanya ada pengurangan jumlah DOC, seharusnya harga membaik. Tapi kenyataannya harga semakin turun,” tuturnya saat ditemui TROBOS Livestock disela-sela kesibukan melayani pengunjung di taman edufarm miliknya.
Zulham mengaku berat jika menggantungkan hidup sepenuhnya dari usaha budidaya broiler. Populasinya yang semula 20.000 dan sempat berkembang jadi 50.000 ekor, kini susut hanya 15.000 ekor. “Sejak 5 tahun lalu, beberapa kandang saya alih fungsikan menjadi kandang sapi perah. Diversifikasi saya lakukan disamping tetap mempertahankan usaha broiler,” tuturnya.
Zulham berpendapat dalam kondisi saat ini jika peternak ingin survive tidak bisa hanya mengandalkan budidaya saja melainkan harus dibarengi dengan trading (jual beli). “Trading yang dilakukan bisa saja broiler itu sendiri atau trading lainnya seperti DOC,” terangnya. Menurut dia daya tawar peternak mandiri saat ini rendah, sehingga seringkali terabaikan oleh pemerintah.
Sumber : Majalah Trobos
Turunnya Performa Broiler
17.59
No comments
Joko Susilo peternak broiler asal Bogor beberapa waktu lalu sempat mengeluhkan kejadian perlambatan tumbuh broiler di rentang Maret hingga Mei lalu. ”Kondisi performa ayam merosot tajam, mulai terasa Maret setelah ada gonjang ganjing harga akan naik tapi nggak jadi naik,” ujarnya kepada TROBOS Livestock (8/6).
Gejala stagnasi bobot ayam atau perlambatan pertumbuhan ayam teramati oleh Joko saat ayam memasuki umur 3 minggu. Ia menjelaskan, biasanya umur 3 minggu sudah mencapai bobot sekitar 950 gram, tetapi waktu itu hanya mencapai bobot sekitar 850 gram. ”Sejak Maret lalu feed intake pakan masuk tapi bobotnya tidak tercapai. Satu hal kalau saya pikir, nggak mungkin menyalahkan alam walaupun memang saat Maret-April sempat terjadi pergantian cuaca dari hujan ke kemarau,” ungkap Joko.
Efisiensi pakan rendah, lanjut dia, konsumsi pakan 100 gram yang menjadi daging paling banter hanya 50 gram. ”Pakan yang dikonsumi tidak sempurna tercerna, kotoran ayam masih berbentuk butiran pakan,” ujar Joko. Ia punya dugaan, kejadian ini disebabkan karena kualitas DOC (ayam umur sehari) yang kurang bagus. ”Waktu itu kan harga DOC sedang hancur banget. Bisa saja seleksinya nggak bener jadi kualitasnya juga menurun,” tuturnya.
Meski demikian Joko tak menampik ada beberapa farm yang performanya tetap bagus. ”Mungkin dengan perbaikan anajemen dan kualitas airnya di kandang,” ungkap Joko. Ia menambahkan, bisa jadi tidak hanya dari aspek DOC, menurut dia kualitas pakan juga turut berkontribusi. Parameternya ketika konsumsi ayam diberikan sesuai kebutuhan, biasanya pagi sudah harus habis ini pakan masih tersisa. ”Ayam tidak sempurna menghabiskan pakannya, masih banyak sisa butiran bubuk dari pakannya karena pakan yang lebih kecil dan mudah pecah,” ungkap Joko. Ia pun sempat melontarkan protes ke perusahaan pakan terkait hal tersebut.
Menurut Joko fenomena ini hampir merata terjadi pada kebanyakan peternakan di Jabodetabek, meskipun di beberapa lokasi ada juga yang tidak mengalami. Kejadian di wilayah Jabodetabek, utamanya dialami pada peternakan dengan tingkat density (kepadatan) yang terlalu tinggi, mencapai 10 – 12 ekor per m2 untuk kandang open, sehingga cekaman panas dan perubahan suhu efeknya sangat terlihat di kandang. ”Data yang saya dapatkan, untuk beberapa lokasi di Bogor Barat yang cuacanya lebih dingin, performa kandang masih bisa tercapai sesuai target,” ungkap joko.
Sumber : Majalah Trobos
Gejala stagnasi bobot ayam atau perlambatan pertumbuhan ayam teramati oleh Joko saat ayam memasuki umur 3 minggu. Ia menjelaskan, biasanya umur 3 minggu sudah mencapai bobot sekitar 950 gram, tetapi waktu itu hanya mencapai bobot sekitar 850 gram. ”Sejak Maret lalu feed intake pakan masuk tapi bobotnya tidak tercapai. Satu hal kalau saya pikir, nggak mungkin menyalahkan alam walaupun memang saat Maret-April sempat terjadi pergantian cuaca dari hujan ke kemarau,” ungkap Joko.
Efisiensi pakan rendah, lanjut dia, konsumsi pakan 100 gram yang menjadi daging paling banter hanya 50 gram. ”Pakan yang dikonsumi tidak sempurna tercerna, kotoran ayam masih berbentuk butiran pakan,” ujar Joko. Ia punya dugaan, kejadian ini disebabkan karena kualitas DOC (ayam umur sehari) yang kurang bagus. ”Waktu itu kan harga DOC sedang hancur banget. Bisa saja seleksinya nggak bener jadi kualitasnya juga menurun,” tuturnya.
Meski demikian Joko tak menampik ada beberapa farm yang performanya tetap bagus. ”Mungkin dengan perbaikan anajemen dan kualitas airnya di kandang,” ungkap Joko. Ia menambahkan, bisa jadi tidak hanya dari aspek DOC, menurut dia kualitas pakan juga turut berkontribusi. Parameternya ketika konsumsi ayam diberikan sesuai kebutuhan, biasanya pagi sudah harus habis ini pakan masih tersisa. ”Ayam tidak sempurna menghabiskan pakannya, masih banyak sisa butiran bubuk dari pakannya karena pakan yang lebih kecil dan mudah pecah,” ungkap Joko. Ia pun sempat melontarkan protes ke perusahaan pakan terkait hal tersebut.
Menurut Joko fenomena ini hampir merata terjadi pada kebanyakan peternakan di Jabodetabek, meskipun di beberapa lokasi ada juga yang tidak mengalami. Kejadian di wilayah Jabodetabek, utamanya dialami pada peternakan dengan tingkat density (kepadatan) yang terlalu tinggi, mencapai 10 – 12 ekor per m2 untuk kandang open, sehingga cekaman panas dan perubahan suhu efeknya sangat terlihat di kandang. ”Data yang saya dapatkan, untuk beberapa lokasi di Bogor Barat yang cuacanya lebih dingin, performa kandang masih bisa tercapai sesuai target,” ungkap joko.
Sumber : Majalah Trobos
Necrotic Enteritis, Tantangan Broiler Sejak Dini
17.58
No comments
Tantangan Necrotic Enteritis (NE) yang umumnya menyerang broiler (ayam pedaging) disebabkan oleh bakteri Clostridium perfringens. Penyakit yang secara umum lebih dikenal dengan radang pada usus ini mengintai unggas semenjak chickin (ayam masuk kandang). Hal ini diungkapkan B. Budi Wirawan, Poultry Health PT Ciomas Adisatwa.
Ia menerangkan, tantangan penyakit ini ternyata datang dari sekam untuk litter yang meski telah didesinfektan sebelumnya. “Clostridium perfringens sulit dibunuh karena bisa membentuk spora,” jelasnya. Bakteri masuk ke dalam saluran pencernaan broiler melalui kontak langsung dengan paruh, mengingat ayam memiliki kebiasaan mematuk-matuk litter.
Ditto Aji, Technical Sales salah satu perusahaan obat hewan area Jawa Tengah, menambahkan, salah satu jalan masuknya bakteri adalah akibat tempat pakan yang jarang dibersihkan dari litter maupun feses ayam yang tidak sengaja masuk akibat kebiasaan ayam mengais-ngais litter dan pakan. “Feses ayam atau litter yang tercemar masuk ke tempat pakan dan mencemari pakan yang ada,”katanya.
Budi melanjutkan broiler yang terjangkit NE sulit sekali dideteksi dari penampilan luar. Pasalnya ciri-ciri yang tampak mirip sekali dengan penyakit pencernaan lainnya. “Ciri yang tampak adalah bulu berdiri dan kloaka nampak kotor bahkan mirip dengan gejala IBD (gumboro) karena IBD juga menyebabkan gangguan pencernaan,” terangnya.
Ditto menimpali, ciri yang tampak lainnya adalah ayam terlihat bergerombol, feses encer dan berwarna merah kecoklatan seperti pepaya. Feed Convertion Ratio (FCR) pun akan meningkat karena pakan tidak terserap dengan sempurna.
Budi mengatakan lagi, perbedaan akan tampak saat pembedahan dilakukan, broiler yang terjangkit NE akan memiliki usus dengan radang yang parah ditandai dengan pembengkakan pembuluh darah vaskuler. “Jika kronis bisa terlihat warna usus yang merah darah,”ujarnya.
Ditto mengimbuhkan, nekrosa pada mukosa usus halus akan tampak apabila serangan NE terjadi. Juga terjadi perubahan pada usus yang mengakibatkan rapuhnya usus. “Beberapa kasus ditemui gelembung udara di dalam usus,”ungkapnya.
Pada musim penghujan jumlah kasus NE meningkat dibandingkan dengan musim kemarau. Hal itu sebagai akibat dari lembabnya litter pada musing penghujan. Saat kemarau, Collibacilosis yang menyerang pernapasan kerap muncul dikarenakan perubahan suhu yang ekstrim saat siang dan malam.
Penyakit ini menyerang broiler pada umur 2-5 minggu dan pada layer di umur 3-6 minggu. “Kebanyakan menyerang ayam saat masih menggunakan sekam sebagai litter, ditambah dengan kondisi kandang dan peralatan yang tidak higienis,”jelas Ditto.
Diawali Coccidiosis
Kemunculan NE pada broiler tidak bisa lepas dari infeksi parasit awal yakni coccidiosis. Gejala jika dilihat dari ekskreta yang dikeluarkan broiler pun hampir sama cirinya, yakni cenderung berdarah. “Infeksi awal NE pada saluran pencernaan akan mengikuti setelah cocci yang akan menyerang terlebih dahulu dan biasanya di sekitar duodenum,”terang Budi.
Masuknya cocci, akan menembus fili-fili usus. Banyaknya sel usus yang rusak merupakan pintu bagi masuknya Clostridium perfringens, serangannya pun tidak tanggung-tanggung yakni sepanjang usus itu sendiri.
Kasus yang terjadi pada broiler lebih banyak disebabkan oleh buruknya manajemen pemeliharaan dan sanitasi kandang, kepadatan yang berlebihan, serta buruknya sirlukasi udara yang mengakibatkan sekam basah. “Kepadatan untuk di Indonesia saat ini telah mencapai 20 ekorper m2, tentunya harus dibarengi dengan manajemen yang ketat,”ungkap Budi.
Kepadatan kandang ideal menurut Ditto adalah 8 ekorper m2. Jika terlalu padat maka penyebaran akan berlangsung cepat dengan tingkat kematian 5–15% bahkan bisa mencapai 40% pada kasus yang akut. “Kepadatan yang tinggi menyebabkan penyebaran NE lebih cepat, khususnya di kandang postal karena sekam akan cepat basah,”ujarnya.
Budi melanjutkan, saat ini kasus NE pada broiler relatif jarang terjadi. Hal ini disebabkan semakin sadarnya peternak akan kebersihan dan sanitasi kandang serta didukung manajemen pemeliharaan yang semakin baik. “Asalkan bakteri penyebab tidak terlalu banyak jumlahnya, tidak berdampak serius terhadap broiler,” tegasnya.NE bisa terjadi sebagai kasus tunggal, namun hanya pada broiler yang tidak pernah bersentuhan dengan antibiotik semasa hidupnya.
Budi menegaskan, NE pada broiler bisa dicegah terlebih dahulu dari pakan yang mengandung coccidiostat guna menghambat pertumbuhan bakteri penyebab coccidiosis. Selain itu, adanya growth promotor pada pakan turut membantu dalam pencegahan serangan NE. Penggunaan antibiotik juga kerap digunakan pada broiler agar tidak gampang terserang penyakit.
Sumber : Majalah Trobos
Ia menerangkan, tantangan penyakit ini ternyata datang dari sekam untuk litter yang meski telah didesinfektan sebelumnya. “Clostridium perfringens sulit dibunuh karena bisa membentuk spora,” jelasnya. Bakteri masuk ke dalam saluran pencernaan broiler melalui kontak langsung dengan paruh, mengingat ayam memiliki kebiasaan mematuk-matuk litter.
Ditto Aji, Technical Sales salah satu perusahaan obat hewan area Jawa Tengah, menambahkan, salah satu jalan masuknya bakteri adalah akibat tempat pakan yang jarang dibersihkan dari litter maupun feses ayam yang tidak sengaja masuk akibat kebiasaan ayam mengais-ngais litter dan pakan. “Feses ayam atau litter yang tercemar masuk ke tempat pakan dan mencemari pakan yang ada,”katanya.
Budi melanjutkan broiler yang terjangkit NE sulit sekali dideteksi dari penampilan luar. Pasalnya ciri-ciri yang tampak mirip sekali dengan penyakit pencernaan lainnya. “Ciri yang tampak adalah bulu berdiri dan kloaka nampak kotor bahkan mirip dengan gejala IBD (gumboro) karena IBD juga menyebabkan gangguan pencernaan,” terangnya.
Ditto menimpali, ciri yang tampak lainnya adalah ayam terlihat bergerombol, feses encer dan berwarna merah kecoklatan seperti pepaya. Feed Convertion Ratio (FCR) pun akan meningkat karena pakan tidak terserap dengan sempurna.
Budi mengatakan lagi, perbedaan akan tampak saat pembedahan dilakukan, broiler yang terjangkit NE akan memiliki usus dengan radang yang parah ditandai dengan pembengkakan pembuluh darah vaskuler. “Jika kronis bisa terlihat warna usus yang merah darah,”ujarnya.
Ditto mengimbuhkan, nekrosa pada mukosa usus halus akan tampak apabila serangan NE terjadi. Juga terjadi perubahan pada usus yang mengakibatkan rapuhnya usus. “Beberapa kasus ditemui gelembung udara di dalam usus,”ungkapnya.
Pada musim penghujan jumlah kasus NE meningkat dibandingkan dengan musim kemarau. Hal itu sebagai akibat dari lembabnya litter pada musing penghujan. Saat kemarau, Collibacilosis yang menyerang pernapasan kerap muncul dikarenakan perubahan suhu yang ekstrim saat siang dan malam.
Penyakit ini menyerang broiler pada umur 2-5 minggu dan pada layer di umur 3-6 minggu. “Kebanyakan menyerang ayam saat masih menggunakan sekam sebagai litter, ditambah dengan kondisi kandang dan peralatan yang tidak higienis,”jelas Ditto.
Diawali Coccidiosis
Kemunculan NE pada broiler tidak bisa lepas dari infeksi parasit awal yakni coccidiosis. Gejala jika dilihat dari ekskreta yang dikeluarkan broiler pun hampir sama cirinya, yakni cenderung berdarah. “Infeksi awal NE pada saluran pencernaan akan mengikuti setelah cocci yang akan menyerang terlebih dahulu dan biasanya di sekitar duodenum,”terang Budi.
Masuknya cocci, akan menembus fili-fili usus. Banyaknya sel usus yang rusak merupakan pintu bagi masuknya Clostridium perfringens, serangannya pun tidak tanggung-tanggung yakni sepanjang usus itu sendiri.
Kasus yang terjadi pada broiler lebih banyak disebabkan oleh buruknya manajemen pemeliharaan dan sanitasi kandang, kepadatan yang berlebihan, serta buruknya sirlukasi udara yang mengakibatkan sekam basah. “Kepadatan untuk di Indonesia saat ini telah mencapai 20 ekorper m2, tentunya harus dibarengi dengan manajemen yang ketat,”ungkap Budi.
Kepadatan kandang ideal menurut Ditto adalah 8 ekorper m2. Jika terlalu padat maka penyebaran akan berlangsung cepat dengan tingkat kematian 5–15% bahkan bisa mencapai 40% pada kasus yang akut. “Kepadatan yang tinggi menyebabkan penyebaran NE lebih cepat, khususnya di kandang postal karena sekam akan cepat basah,”ujarnya.
Budi melanjutkan, saat ini kasus NE pada broiler relatif jarang terjadi. Hal ini disebabkan semakin sadarnya peternak akan kebersihan dan sanitasi kandang serta didukung manajemen pemeliharaan yang semakin baik. “Asalkan bakteri penyebab tidak terlalu banyak jumlahnya, tidak berdampak serius terhadap broiler,” tegasnya.NE bisa terjadi sebagai kasus tunggal, namun hanya pada broiler yang tidak pernah bersentuhan dengan antibiotik semasa hidupnya.
Budi menegaskan, NE pada broiler bisa dicegah terlebih dahulu dari pakan yang mengandung coccidiostat guna menghambat pertumbuhan bakteri penyebab coccidiosis. Selain itu, adanya growth promotor pada pakan turut membantu dalam pencegahan serangan NE. Penggunaan antibiotik juga kerap digunakan pada broiler agar tidak gampang terserang penyakit.
Sumber : Majalah Trobos
Jumat, 16 Mei 2014
Tirai Dalam
Tirai berfungsi untuk mengatur sirkulasi udara dari luar ke dalam kandang. Namun ketika melihat kondisi di lapangan, terutama pada masa brooding, tidak cukup hanya menggunakan tirai luar.
Pada masa brooding, ketika diperlukan suhu yang relatif lebih tinggi dan lebih terjaga kondisi di dalam area broodingnya. Upaya ini bisa dilakukan dengan penambahan tirai dalam, sehingga diharapkan performance pada masa brooding bisa tercapai.
Rabu, 09 Oktober 2013
Senin, 12 November 2012
Penyakit CRD dan Penanganannya
18.24
1 comment
Berdasarkan data, kasus serangan peyakit unggas terutama ayam yaitu penyakit ngorok yang komplek atau sering juga disebut Chronic Respiratory Desease (CRD) komplek. Memang saat ini CRD komplek masih susah ditangani, padahal kerugian yang ditimbulkannya tidaklah sedikit. Hal ini dihubungkan dengan rendahnya laju pertumbuhan, tingginya angka kematian dan tingginya
konversi ransum. Kerugian lain akibat CRD komplek adalah keseragaman bobot badan yang tidak tercapai dan banyaknya ayam yang harus diafkir, sehingga para peternak akan merugi.
CRD komplek merupakan gabungan penyakit dengan 2 (dua) komponen yaitu Mycoplasma galisepticum dan bakteri Escherichia coli. Faktor penentu menularnya penyakit ini adalah sistem pemeliharaan dengan suhu lingkungan yang tinggi yaitu panas atau dingin, kelembaban tinggi, kurangnya ventilasi, kepadatan ternak terlalu tinggi dan cara pemeliharaan yang berbagai umur. Biosecurity yang ketat dan pemilihan antibiotik yang spesifik merupakan langkah yang harus ditempuh untuk menyelamatkan ayam dari penyakit tersebut.
Penyakit ngorok atau CRD pada ayam ini merupakan suatu penyakit yang menyerang saluran pernafasan dimana sifatnya kronis. Disebut kronis karena penyakit ini berlangsung secara terus menerus dalam jangka waktu lama (menahun) dan ayamnya tidak sembuh-sembuh. Penyebab utamanya adalah keracunan Mycoplasma galisepticum, salah satu gejala khas CRD adalah ayam tersebut ngorok, sehingga peternak menyebutnya penyakit ngorok.
Sebagai penyakit tunggal, CRD jarang sampai menimbulkan kematian namun menimbulkan angka kesakitan yang tinggi. Di lapangan kasus CRD murni jarang ditemukan, yang sering ditemukan adalah CRD komplek, yaitu penyakit CRD yang diikuti oleh infeksi penyakit lainnya, terutama sering diikuti oleh bakteri Escherichia coli.
CRD komplek dapat menimbulkan kerugian ekonomi yang cukup besar. Penyakit ini dapat menyebabkan kematian. Selain itu, dapat menyebabkan pertumbuhan terhambat, mutu karkas jelek, produksi telur menurun, keseragaman bobot badan yang tidak tercapai dan banyaknya ayam yang harus diafkir juga semakin memperbesar biaya pengobatan.
Penyakit ngorok komplek pada ayam ini dapat berkomplikasi dengan mikroba penyakit lain seperti dengan penyakit tetelo atau New Castle Desease (ND), Infetious Bronhitis (IB) dan E. coli. CRD dapat menyerang ayam pada semua umur dengan angka penularan yang cepat.
Penyebab penyakit ini, bisa terdapat di ayam yang sehat, dimana ayam tersebut disebut ayam pembawa penyakit (carier). Ayam yang terserang CRD saat daya tahan tubuhnya menurun pada waktu stress seperti pindah kandang, kedinginan, vaksinasi, potong paruh, ventilasi jelek, litter lembab, kadar amonia tinggi atau ayam terserang penyakit lain.
Kerugian akibat CRD komplek diantaranya adalah kegagalan vaksinasi, karena CRD komplek bersifat immunosupressant ( menekan kekebalan), terhambatnya pertumbuhan, tingginya angka kematian, tingginya biaya pengobatan dan meningkatnya konversi ransum.
Untuk memberantas CRD komplek ini tidak gampang. Caranya adalah dengan melakukan pengobatan yang tepat, melakukan hal yang dapat menyebabkan putusnya mata rantai penyebab terjadinya CRD komplek. Misalnya kita harus menjaga masuknya agent penyakit ke dalam tubuh ayam, selain itu para peternak harus mempertahankan kesehatan ayamnya dengan memberikan multivitamin dan juga para peternak harus memelihara lingkungan kandang supaya segar dan sehat, tentunya tidak pengap, ventilasi cukup dan tidak lembab. Selain itu kepadatan kandang harus selalu diperhatikan, sehingga udara bersih selalu terjamin. Suhu kandang yang terlalu panas juga dapat menyebabkan meningkatnya nafsu minum dan menurunnya nafsu makan. Dengan meningkatnya nafsu minum, maka akan merangsang peningkatan urinasi dan litter menjadi basah, sehingga konsentrasi ammonia tinggi dan dapat menyebabkan gangguan pernafasan, akhirnya ayam akan rawan terhadap CRD komplek.
Suatu strategi dalam melakukan pengendalian CRD komplek yang efektif adalah dengan melakukan pemeriksaan terhadap anak ayam umur 1 (satu) hari atau sering disebut dengan Day Old Chick (DOC) dari pembibitnya, hasil diagnosa yang tepat bersamaan dengan biosecurity yang efektif dan pelaksanaan tatalaksana pemeliharaan yang baik.
Adapun cara-cara melakukan pengendalian CRD komplek yaitu
(1) memperbaiki tatalaksana kandang,
(2) melakukan sanitasi air minum yang baik,
(3) melakukan pengobatan yang tepat dan
(4) melaksakan biosecurity yang ketat.
Langkah-langkah untuk melakukan biosecurity yang ketat antara lain :
(1) melakukan pengafkiran pada ayam yang terinfeksi,
(2) membersihkan kandang dengan tekanan air yang tinggi serta melakukan penyemprotan kandang dengan memakai desinfektan, (3) kosongkan kandang minimal 2 (dua) minggu setelah kandang dibersihkan,
(4) pengontrolan lalu-lintas dengan mengontrol kendaraan yang keluar masuk lokasi peternakan.
Dari uraian tersebut di atas maka dapat disimpulkan apabila peternakan anda terkena CRD komplek, yang perlu diperhatikan adalah :
(1) menekan kadar amonia dan debu yang ada di kandang, dengan melakukan perbaikan pada kondisi kandang, mengurangi kepadatan kandang, perhatikan tatalaksana litter, ventilasi kandang dan pengaruh lingkungan,
(2) pemeliharaan ayam harus dilakukan secara all-in all-out,
(3) melakukan pemilihan obat yang tepat dan kita harus memperhatikan faktor resistensi dari kuman
(SEMOGA BERMANFAAT) TRIMAKASIH
Sumber : https://www.facebook.com/groups/PeternakAyamBroiler/doc/10151358702071802/
Jumat, 09 November 2012
Performance 21 Hari :)
16.51
No comments

















