Kandang Close Housed

Kandang sistem closed house adalah kandang tertutup yang menjamin keamanan secara biologi (kontak dengan organisme lain) dengan pengaturan ventilasi yang baik sehingga lebih sedikit stress yang terjadi pada ternak.

Broiler Modern

Ayam pedaging hasil persilangan dari berbagai bangsa ayam pedaging, yang memiliki kemampuan untuk menghasilkan daging secara optimal dan edisien, memiliki keunggulan pertumbuhannya yang sangat cepat dengan bobot badan yang tinggi dalam waktu yang relatif pendek, konversi pakan kecil, siap dipotong pada usia muda serta menghasilkan kualitas daging berserat lunak, yang didukung dengan pakan yang berkualitas dan menajemen pemeliharaan yang maksmila

Brooding Period

Brooding Period Brooding Period Brooding Period Brooding Period Brooding Period Brooding Period Brooding Period Brooding Period Brooding Period Brooding Period Brooding Period Brooding Period Brooding Period

DOC ( Day Old Chick )

DOC ( Day Old Chick ) DOC ( Day Old Chick ) DOC ( Day Old Chick ) DOC ( Day Old Chick ) DOC ( Day Old Chick ) DOC ( Day Old Chick ) DOC ( Day Old Chick ) DOC ( Day Old Chick ) DOC ( Day Old Chick )

Pakan Broiler

Campuran dari beberapa bahan baku pakan, baik yang sudah lengkap maupun yang masih akan dilengkapi, yang disusun secara khusus dan mengandung zat gizi yang mencukupi kebutuhan ternak untuk dapat dipergunakan sesuai dengan jenis ternaknya.

Tampilkan postingan dengan label obat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label obat. Tampilkan semua postingan

Senin, 01 Juni 2009

LALAT MUSUH BERSAMA


Lalat dapat menjadi perantara (carrier) dalam penyebaran berbagai macam penyakit yang dapat mengganggu dan membahayakan kesehatan manusia. Contohnya: diarea, salmonella tyfosa (tipes), dan avian influenza (flu burung) dll. Siklus hidup lalat termasuk pendek hanya 29 hari namun sekali bertelur sekitar 150-500 butir adlam setiap harinya. Bayangkan bila lalat betina yang bertelur 28 hari kemudian mati dihari yagn ke 29. Populasi lalat akan selalu menjadi masalah untuk kesehatan manusia. Fenomena lalat layaknya fenomena gunung es yang menyeruak ke atas hanya puncaknya saja yaitu lalat dewasa padahal dibawah telah siap telur, larva, pupa menyusul menjadi lalat dewasa. Lalat rumah (haouse fly) pada setiap ekornya membawa 125.000 kuman. (Wikipedia)

OMILAT (system sistematik)
Omilat adalah cairan/butiran pembunuh LALAT yang sangat efektif untuk menekan populasi lalat dan membunuh lalat, namun AMAN untuk manusia dan ramah lingkungan.
Omilat mempunyai aroma yang disukai lalat sehingga lalat akan menghisapnya kemudian mati.
Kocok terlebih dahulu sebelum digunakan.
Omilat cair 100ml dicampurkan dengan 1000ml air dan kocok merata, lalu masukan larutan omilat cair dalam sprayer kecil kemudian semprotkan pada lantau atau permukaan yang banyak dihinggapi lalat.
Omilat oles dioleskan (menggunakan kuas) pada kayu, triplex, karton atau media yang dapat dijadikan alas dan tempatkan pada lokasi yang banyak lalatnya.
Omilat granule ditaburkan pada nampan/wadah dan tempatkan pada lokasi yang banyak lalatnya.

FAST KILLER (System kontak)
FAST KILLER adalah cairan pembunuh LALAT dengan komposisi yang sempurna untuk membunuh lalat, semut dan kecoa.
Kocok terlebih dahulu sebelum digunakan
FAST KILLER 30-50 ml dicampurkan ke dalam 1 liter air.
Masukan larutan FAST KILLER cair ke dalam sprayer, kemudian semprotkan pada lantai atau permukaan yang sering dihinggapi lalat.

Senin, 02 Februari 2009

KHASIAT BAWANG PUTIH TERHADAP CACING ASCARIDIA GALLI (CACING GILIG)

Infeksi cacing merupakan salah satu penyakit yang umum dan sangat merugikan peternak ayam. Upaya pengendalian cacing dengan obat cacing yang dipasarkan sampai saat ini hasilnya belum optimal, karena obat cacing umumnya hanya mampu membunuh cacing dewasa dan kurang mampu membunuh telur yang merupakan sumber penularan berikutnya. Selain itu cacing yang mati akibat obat cacing, tidak membuat telur yang ada di dalam tubuhnya mati dan kemungkinan besar masih efektif sebagai sumber penular pada unggas lainnya.

Karena itu beberapa peneliti mencoba menggali pengobatan tradisional seperti Hidayati (1991), melakukan penelitian menggunakan ekstrak bawang putih dengan dosis 1 mg, 3 mg, 10 mg dan 30 mg yang dibandingkan dengan levamisol dalam menurunkan Total Telur per Gram Tinja (TTGT) cacing A. galli pada ayam ras petelur Harco secara in-vivo. Dalam penelitian ini didapat bawang putih efektif menurunkan TTGT dan pada dosis 30 mg efektiviasnya tidak berbeda dibandingkan levamisol.

Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Ida Bagus Made Oka, Universitas Udayana, menggunakan
48 ekor ayam kampung yang terinfeksi cacing A. galli berumur enam bulan. Pemberian bawang putih dilakukan secara oral dengan dosis tertentu (kontrol (P1)2 g (P2), 3 g (P3), 4 g (P4), 5 g (P5), 6 g (P6)). Selama penelitian, ayam yang diberikan perlakuan tidak memperlihatkan kelainan yang mencolok secara klinis, hanya saja sehari setelah perlakuan, dari tinja dan tubuh ayam tercium bau khas bawang putih.

Bawang putih dengan jumlah pemberian 2g, 3g , 4g, 5g dan 6g berkhasiat ovisidal dan vermisidal terhadap telur dan cacing A.galli pada ayam kampung. Ovisidal dan vermisidal bawang putih akan semakin nyata sebanding dengan peningkatan jumlah pemberian Efek ovisidal dan vermisidal bawang putih terhadap telur dan cacing A. galli disebabkan karena bawang putih mengandung bahan berkhasiat anthelmintik alisin yang setelah diteliti lebih lanjut terdiri dari dialil disulfida, dialil trisulfida, propil alil disulfida, dialil mono sulfida, alil polisulfida dan squiterpene (Watanabe, 1998) suatu enzim sulfidril (Handali, 1988) yang dapat menembus dinding telur dan cacing. Enzim sulfhdril mempunyai kemampuan kuat berikatan secara kovalen dengan enzim fosfofruktokinase dari sel (telur dan cacing).

Enzim fosfofruktokinase berfungsi mengkatalis perubahan fruktosa-6-fosfat menjadi fruktosa-1,6-difosfat pada jalur glikolitik protein dan glukosa, karena berikatan secara kovalen dengan alisin menyebabkan perubahan fruktosa-6-fosfat tidak terjadi (Siswandono dan Soekardjo, 1995) dan pada akhirnya AT P akan tidak terbentuk (Colby, 1992). Tidak terbentuknya AT P menyebabkan pembelahan sel di dalam telur tidak akan berlangsung sehingga pada akhirnya embrio tidak terbentuk (berkhasiat ovisidal), sedangkan khasiat vermisidal akibat tidak terbentuknya AT P menyebabkan cacing akan kekurangan tenaga dan akhirnya mati.

Sumber : Jvet Vol 4 (2), www.jvetunud.com
Edisi Januari 2008 Nomor 97/Tahun IX

MENGENAL BAWANG PUTIH BAGI KESEHATAN

Bawang putih atau Allium sativum sudah menjadi bahan dapur wajib saat memasak karena aroma dan rasa yang dihasilkannya menambah sedap setiap resep masakan. Terlebih lagi dengan adanya berbagai penelitian yang menemukan khasiat bawang putih bagi kesehatan dan menambah panjang deretan penggemar setianya.

Bila menengok ke beberapa abad lalu, manfaat bawang putih bagi masakan dan kesehatan ini ternyata sudah digunakan sejak zaman Yunani dan Romawi kuno, untuk dikonsumsi dan pengobatan. Sedangkan di dalam resep makanan Libanon, bawang putih sejak dulu digunakan sebagai resep untuk diet. Seiring dengan berjalannya waktu, semakin banyak ditemukan khasiat bawang putih bagi kesehatan yang kemudian diuji melalui serangkaian penelitian baik dalam maupun luar negeri.

Manfaat bawang putih antara lain sebagai pembantu penurun kadar kolesterol. Hal ini disebabkan karena adanya zat ajoene yang terkandung di dalamnya, yaitu suatu senyawa yang bersifat antikolesterol dan membantu mencegah penggumpalan darah.
Ada pula penelitian yang menemukan bahwa mengkonsumsi bawang putih secara teratur sekitar 2 – 3 siung setiap hari dapat membantu mencegah serangan jantung. Pasalnya bawang putih ini bermanfaat membantu mengecilkan sumbatan pada arteri jantung sehingga meminimalkan terjadinya serangan.

Bawang putih juga dapat membantu menghindari kanker yang dibuktikan melalui penelitian yang dilakukan oleh University of Minnesota. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa resiko terkena kanker di usia tua berkurang sebanyak 50% bila mengkonsumsi bawang putih secara rutin.

Bawang Putih untuk Unggas

Penelitian lain yang dilakukan oleh Sri Suharti dari IPB memberikan suatu hasil bahwa bawang putih juga terbukti mampu menghambat pertumbuhan bakteri. Penelitian dengan melalui pemberian temulawak, jahe dan bawang putih yang diuji kemampuannya terhadap bakteri Salmonella typhimurium dengan cara dikeringkan dan digiling menjadi bubuk, kemudian diukur aktifitas bakterinya. Terbukti bawang putih dapat menghambat pertumbuhan bakteri yang setara dengan tetrasiklik 100 dan 1549 g/ml dengan konsentrasi 5%. Sedangkan temulawak dan jahe jauh lebih rendah kemampuannya dalam menghambat pertumbuhan bakteri S. typhimurium. Aktifitas antibakteri bawang putih ini disebabkan kandungan diallyl thiosulfinate (biasa disebut : allicin), yang diduga dapat merusak dinding sel dan menghambat sintesa protein.

Pemberian bawang putih hingga 2,5% dalam ransum ayam broiler dapat meningkatkan konversi pakan, meningkatkan karkas, menurunkan koloni bakteri S. Typhimurium dalam feses dengan tidak mempengaruhi kadar immunoglobulin dalam darah.
Dengan demikian, bawang putih ini cukup potensial menjadi alternative suplemen zat antimikroba. Namun, masih perlu dilakukan penelitian lagi sampai sejauh mana bawang putih effektif digunakan dalam pakan broiler.

Di Negara Asia, seperti Jepang atau Cina, bawang putih bias dikonsumsi tanpa harus ditumbuk halus atau dirajang seperti kebanyakan bumbu di Indonesia. Di mana satu suing bawang putih tinggal dibakar diatas api atau langsung dikudap tanpa racikan lain, untuk menambah rasa masakan. Selain sebagai penyedap masakan, bawang putih juga dapat mengurangi dampak buruk dari lemak.

Konsumsi bawang putih tentu saja harus diimbangi dengan gaya hidup yang sehat seperti mengurangi makanan yang mengandung lemak atau kolesterol tinggi, banyak olahraga, beristirahat serta mengkonsumsi makanan yang kaya akan nutrisi. Sumber : kompas & www.cybernews.com