Kandang Close Housed

Kandang sistem closed house adalah kandang tertutup yang menjamin keamanan secara biologi (kontak dengan organisme lain) dengan pengaturan ventilasi yang baik sehingga lebih sedikit stress yang terjadi pada ternak.

Broiler Modern

Ayam pedaging hasil persilangan dari berbagai bangsa ayam pedaging, yang memiliki kemampuan untuk menghasilkan daging secara optimal dan edisien, memiliki keunggulan pertumbuhannya yang sangat cepat dengan bobot badan yang tinggi dalam waktu yang relatif pendek, konversi pakan kecil, siap dipotong pada usia muda serta menghasilkan kualitas daging berserat lunak, yang didukung dengan pakan yang berkualitas dan menajemen pemeliharaan yang maksmila

Brooding Period

Brooding Period Brooding Period Brooding Period Brooding Period Brooding Period Brooding Period Brooding Period Brooding Period Brooding Period Brooding Period Brooding Period Brooding Period Brooding Period

DOC ( Day Old Chick )

DOC ( Day Old Chick ) DOC ( Day Old Chick ) DOC ( Day Old Chick ) DOC ( Day Old Chick ) DOC ( Day Old Chick ) DOC ( Day Old Chick ) DOC ( Day Old Chick ) DOC ( Day Old Chick ) DOC ( Day Old Chick )

Pakan Broiler

Campuran dari beberapa bahan baku pakan, baik yang sudah lengkap maupun yang masih akan dilengkapi, yang disusun secara khusus dan mengandung zat gizi yang mencukupi kebutuhan ternak untuk dapat dipergunakan sesuai dengan jenis ternaknya.

Sabtu, 08 Agustus 2015

Turunnya Performa Broiler

Joko Susilo peternak broiler asal Bogor beberapa waktu lalu sempat mengeluhkan kejadian perlambatan tumbuh broiler di rentang Maret hingga Mei lalu. ”Kondisi performa ayam merosot tajam, mulai terasa Maret setelah ada gonjang ganjing harga akan naik tapi nggak jadi naik,” ujarnya kepada TROBOS Livestock (8/6).

Gejala stagnasi bobot ayam atau perlambatan pertumbuhan ayam teramati oleh Joko saat ayam memasuki umur 3 minggu. Ia menjelaskan, biasanya umur 3 minggu sudah mencapai bobot sekitar 950 gram, tetapi waktu itu hanya mencapai bobot sekitar 850 gram. ”Sejak Maret lalu feed intake pakan masuk tapi bobotnya tidak tercapai. Satu hal kalau saya pikir, nggak mungkin menyalahkan alam walaupun memang saat Maret-April sempat terjadi pergantian cuaca dari hujan ke kemarau,” ungkap Joko.

Efisiensi pakan rendah, lanjut dia, konsumsi pakan 100 gram yang menjadi daging paling banter hanya 50 gram. ”Pakan yang dikonsumi tidak sempurna tercerna, kotoran ayam masih berbentuk butiran pakan,” ujar Joko. Ia punya dugaan, kejadian ini disebabkan  karena kualitas DOC (ayam umur sehari) yang kurang bagus. ”Waktu itu kan harga DOC sedang hancur banget. Bisa saja seleksinya nggak bener jadi kualitasnya juga menurun,” tuturnya.

Meski demikian Joko tak menampik ada beberapa farm yang performanya tetap bagus. ”Mungkin dengan perbaikan anajemen dan kualitas airnya di kandang,” ungkap Joko. Ia menambahkan, bisa jadi tidak hanya dari aspek DOC, menurut dia kualitas pakan juga turut berkontribusi. Parameternya ketika konsumsi ayam diberikan sesuai kebutuhan, biasanya pagi sudah harus habis ini pakan masih tersisa. ”Ayam tidak sempurna menghabiskan pakannya, masih banyak sisa butiran bubuk dari pakannya karena pakan yang lebih kecil dan mudah pecah,” ungkap Joko. Ia pun sempat melontarkan protes ke perusahaan pakan terkait hal tersebut.

Menurut Joko fenomena ini hampir merata terjadi pada kebanyakan peternakan di Jabodetabek, meskipun di beberapa lokasi ada juga yang tidak mengalami. Kejadian di wilayah Jabodetabek, utamanya dialami pada peternakan dengan tingkat density (kepadatan) yang terlalu tinggi, mencapai 10 – 12 ekor per m2 untuk kandang open, sehingga cekaman panas dan perubahan suhu efeknya sangat terlihat di kandang. ”Data yang saya dapatkan, untuk beberapa lokasi di Bogor Barat yang cuacanya lebih dingin, performa kandang masih bisa tercapai sesuai target,” ungkap joko.

Sumber : Majalah Trobos

Necrotic Enteritis, Tantangan Broiler Sejak Dini

Tantangan Necrotic Enteritis (NE) yang umumnya menyerang broiler (ayam pedaging) disebabkan oleh bakteri Clostridium perfringens. Penyakit yang secara umum lebih dikenal dengan radang pada usus ini mengintai unggas semenjak chickin (ayam masuk kandang). Hal ini diungkapkan B. Budi Wirawan, Poultry Health PT Ciomas Adisatwa.
              
Ia menerangkan, tantangan penyakit ini ternyata datang dari sekam untuk litter yang meski telah didesinfektan sebelumnya. “Clostridium perfringens sulit dibunuh karena bisa membentuk spora,” jelasnya. Bakteri masuk ke dalam saluran pencernaan broiler melalui kontak langsung dengan paruh, mengingat ayam memiliki kebiasaan mematuk-matuk litter.
              
Ditto Aji, Technical Sales salah satu perusahaan obat hewan area Jawa Tengah, menambahkan, salah satu jalan masuknya bakteri adalah akibat tempat pakan yang jarang dibersihkan dari litter maupun feses ayam yang tidak sengaja masuk akibat kebiasaan ayam mengais-ngais litter dan pakan. “Feses ayam atau litter yang tercemar masuk ke tempat pakan dan mencemari pakan yang ada,”katanya.
              
Budi melanjutkan broiler yang terjangkit NE sulit sekali dideteksi dari penampilan luar. Pasalnya ciri-ciri yang tampak mirip sekali dengan penyakit pencernaan lainnya. “Ciri yang tampak adalah bulu berdiri dan kloaka nampak kotor bahkan mirip dengan gejala IBD (gumboro) karena IBD juga menyebabkan gangguan pencernaan,” terangnya.
              
Ditto menimpali, ciri yang tampak lainnya adalah ayam terlihat bergerombol, feses encer dan berwarna merah kecoklatan seperti pepaya. Feed Convertion Ratio (FCR) pun akan meningkat karena pakan tidak terserap dengan sempurna.
              
Budi mengatakan lagi, perbedaan akan tampak saat pembedahan dilakukan, broiler yang terjangkit NE akan memiliki usus dengan radang yang parah ditandai dengan pembengkakan pembuluh darah vaskuler. “Jika kronis bisa terlihat warna usus yang merah darah,”ujarnya.
              
Ditto mengimbuhkan, nekrosa pada mukosa usus halus akan tampak apabila serangan NE terjadi. Juga terjadi perubahan pada usus yang mengakibatkan rapuhnya usus. “Beberapa kasus ditemui gelembung udara di dalam usus,”ungkapnya.
              
Pada musim penghujan jumlah kasus NE meningkat dibandingkan dengan musim kemarau. Hal itu sebagai akibat dari lembabnya litter pada musing penghujan. Saat kemarau, Collibacilosis yang menyerang pernapasan kerap muncul dikarenakan perubahan suhu yang ekstrim saat siang dan malam.

Penyakit ini menyerang broiler pada umur 2-5 minggu dan pada layer di umur 3-6 minggu. “Kebanyakan menyerang ayam saat masih menggunakan sekam sebagai litter, ditambah dengan kondisi kandang dan peralatan yang tidak higienis,”jelas Ditto.

Diawali Coccidiosis

Kemunculan NE pada broiler tidak bisa lepas dari infeksi parasit awal yakni coccidiosis. Gejala jika dilihat dari ekskreta yang dikeluarkan broiler pun hampir sama cirinya, yakni cenderung berdarah. “Infeksi awal NE pada saluran pencernaan akan mengikuti setelah cocci yang akan menyerang terlebih dahulu dan biasanya di sekitar duodenum,”terang Budi.
              
Masuknya cocci, akan menembus fili-fili usus. Banyaknya sel usus yang rusak merupakan pintu bagi masuknya Clostridium perfringens, serangannya pun tidak tanggung-tanggung yakni sepanjang usus itu sendiri.
              
Kasus yang terjadi pada broiler lebih banyak disebabkan oleh buruknya manajemen pemeliharaan dan sanitasi kandang, kepadatan yang berlebihan, serta buruknya sirlukasi udara yang mengakibatkan sekam basah. “Kepadatan untuk di Indonesia saat ini telah mencapai 20 ekorper m2, tentunya harus dibarengi dengan manajemen yang ketat,”ungkap Budi.
              
Kepadatan kandang ideal menurut Ditto adalah 8 ekorper m2. Jika terlalu padat maka penyebaran akan berlangsung cepat dengan tingkat kematian 5–15% bahkan bisa mencapai 40% pada kasus yang akut. “Kepadatan yang tinggi menyebabkan penyebaran NE lebih cepat, khususnya di kandang postal karena sekam akan cepat basah,”ujarnya.
              
Budi melanjutkan, saat ini kasus NE pada broiler relatif jarang terjadi. Hal ini disebabkan semakin sadarnya peternak akan kebersihan dan sanitasi kandang serta didukung manajemen pemeliharaan yang semakin baik. “Asalkan bakteri penyebab tidak terlalu banyak jumlahnya, tidak berdampak serius terhadap broiler,” tegasnya.NE bisa terjadi sebagai kasus tunggal, namun hanya pada broiler yang tidak pernah bersentuhan dengan antibiotik semasa hidupnya.
              
Budi menegaskan, NE pada broiler bisa dicegah terlebih dahulu dari pakan yang mengandung coccidiostat guna menghambat pertumbuhan bakteri penyebab coccidiosis. Selain itu, adanya growth promotor pada pakan turut membantu dalam pencegahan serangan NE. Penggunaan antibiotik juga kerap digunakan pada broiler agar tidak gampang terserang penyakit.

Sumber : Majalah Trobos

Jumat, 16 Mei 2014

Tirai Dalam

Tirai berfungsi untuk mengatur sirkulasi udara dari luar ke dalam kandang. Namun  ketika melihat kondisi di lapangan, terutama pada masa brooding, tidak cukup hanya menggunakan tirai luar.

Pada masa brooding, ketika diperlukan suhu yang relatif lebih tinggi dan lebih terjaga kondisi di dalam area broodingnya. Upaya ini bisa dilakukan dengan penambahan tirai dalam, sehingga diharapkan performance pada masa brooding bisa tercapai.

Rabu, 09 Oktober 2013

Senin, 12 November 2012

Penyakit CRD dan Penanganannya


Berdasarkan data, kasus serangan peyakit unggas terutama ayam yaitu penyakit ngorok yang komplek atau sering juga disebut Chronic Respiratory Desease (CRD) komplek. Memang saat ini CRD komplek masih susah ditangani, padahal kerugian yang ditimbulkannya tidaklah sedikit. Hal ini dihubungkan dengan rendahnya laju pertumbuhan, tingginya angka kematian dan tingginya
konversi ransum. Kerugian lain akibat CRD komplek adalah keseragaman bobot badan yang tidak tercapai dan banyaknya ayam yang harus diafkir, sehingga para peternak akan merugi.

CRD komplek merupakan gabungan penyakit dengan 2 (dua) komponen yaitu Mycoplasma galisepticum dan bakteri Escherichia coli. Faktor penentu menularnya penyakit ini adalah sistem pemeliharaan dengan suhu lingkungan yang tinggi yaitu panas atau dingin, kelembaban tinggi, kurangnya ventilasi, kepadatan ternak terlalu tinggi dan cara pemeliharaan yang berbagai umur. Biosecurity yang ketat dan pemilihan antibiotik yang spesifik merupakan langkah yang harus ditempuh untuk menyelamatkan ayam dari penyakit tersebut.

Penyakit ngorok atau CRD pada ayam ini merupakan suatu penyakit yang menyerang saluran pernafasan dimana sifatnya kronis. Disebut kronis karena penyakit ini berlangsung secara terus menerus dalam jangka waktu lama (menahun) dan ayamnya tidak sembuh-sembuh. Penyebab utamanya adalah keracunan Mycoplasma galisepticum, salah satu gejala khas CRD adalah ayam tersebut ngorok, sehingga peternak menyebutnya penyakit ngorok.
Sebagai penyakit tunggal, CRD jarang sampai menimbulkan kematian namun menimbulkan angka kesakitan yang tinggi. Di lapangan kasus CRD murni jarang ditemukan, yang sering ditemukan adalah CRD komplek, yaitu penyakit CRD yang diikuti oleh infeksi penyakit lainnya, terutama sering diikuti oleh bakteri Escherichia coli.

CRD komplek dapat menimbulkan kerugian ekonomi yang cukup besar. Penyakit ini dapat menyebabkan kematian. Selain itu, dapat menyebabkan pertumbuhan terhambat, mutu karkas jelek, produksi telur menurun, keseragaman bobot badan yang tidak tercapai dan banyaknya ayam yang harus diafkir juga semakin memperbesar biaya pengobatan.

Penyakit ngorok komplek pada ayam ini dapat berkomplikasi dengan mikroba penyakit lain seperti dengan penyakit tetelo atau New Castle Desease (ND), Infetious Bronhitis (IB) dan E. coli. CRD dapat menyerang ayam pada semua umur dengan angka penularan yang cepat.

Penyebab penyakit ini, bisa terdapat di ayam yang sehat, dimana ayam tersebut disebut ayam pembawa penyakit (carier). Ayam yang terserang CRD saat daya tahan tubuhnya menurun pada waktu stress seperti pindah kandang, kedinginan, vaksinasi, potong paruh, ventilasi jelek, litter lembab, kadar amonia tinggi atau ayam terserang penyakit lain.

Kerugian akibat CRD komplek diantaranya adalah kegagalan vaksinasi, karena CRD komplek bersifat immunosupressant ( menekan kekebalan), terhambatnya pertumbuhan, tingginya angka kematian, tingginya biaya pengobatan dan meningkatnya konversi ransum.

Untuk memberantas CRD komplek ini tidak gampang. Caranya adalah dengan melakukan pengobatan yang tepat, melakukan hal yang dapat menyebabkan putusnya mata rantai penyebab terjadinya CRD komplek. Misalnya kita harus menjaga masuknya agent penyakit ke dalam tubuh ayam, selain itu para peternak harus mempertahankan kesehatan ayamnya dengan memberikan multivitamin dan juga para peternak harus memelihara lingkungan kandang supaya segar dan sehat, tentunya tidak pengap, ventilasi cukup dan tidak lembab. Selain itu kepadatan kandang harus selalu diperhatikan, sehingga udara bersih selalu terjamin. Suhu kandang yang terlalu panas juga dapat menyebabkan meningkatnya nafsu minum dan menurunnya nafsu makan. Dengan meningkatnya nafsu minum, maka akan merangsang peningkatan urinasi dan litter menjadi basah, sehingga konsentrasi ammonia tinggi dan dapat menyebabkan gangguan pernafasan, akhirnya ayam akan rawan terhadap CRD komplek.

Suatu strategi dalam melakukan pengendalian CRD komplek yang efektif adalah dengan melakukan pemeriksaan terhadap anak ayam umur 1 (satu) hari atau sering disebut dengan Day Old Chick (DOC) dari pembibitnya, hasil diagnosa yang tepat bersamaan dengan biosecurity yang efektif dan pelaksanaan tatalaksana pemeliharaan yang baik.

Adapun cara-cara melakukan pengendalian CRD komplek yaitu
(1) memperbaiki tatalaksana kandang,
(2) melakukan sanitasi air minum yang baik,
(3) melakukan pengobatan yang tepat dan
(4) melaksakan biosecurity yang ketat.

Langkah-langkah untuk melakukan biosecurity yang ketat antara lain :
(1) melakukan pengafkiran pada ayam yang terinfeksi,
(2) membersihkan kandang dengan tekanan air yang tinggi serta melakukan penyemprotan kandang dengan memakai desinfektan, (3) kosongkan kandang minimal 2 (dua) minggu setelah kandang dibersihkan,
(4) pengontrolan lalu-lintas dengan mengontrol kendaraan yang keluar masuk lokasi peternakan.

Dari uraian tersebut di atas maka dapat disimpulkan apabila peternakan anda terkena CRD komplek, yang perlu diperhatikan adalah :
(1) menekan kadar amonia dan debu yang ada di kandang, dengan melakukan perbaikan pada kondisi kandang, mengurangi kepadatan kandang, perhatikan tatalaksana litter, ventilasi kandang dan pengaruh lingkungan,
(2) pemeliharaan ayam harus dilakukan secara all-in all-out,
(3) melakukan pemilihan obat yang tepat dan kita harus memperhatikan faktor resistensi dari kuman


(SEMOGA BERMANFAAT) TRIMAKASIH

Sumber : https://www.facebook.com/groups/PeternakAyamBroiler/doc/10151358702071802/

Jumat, 09 November 2012

Performance 21 Hari :)









Pop 3600e, 21hr, bw 880gr, m 1,2%, fcr 1,09, ada masukan? (postingan di grup Peternak Ayam Broiler)
Alhamdulillah dari postingan itu muncul berbagai tanggapan. Dari foto diatas, bisa terlihat beberapa fakta :
1. kondisi ayam berebut pakan, pemberian pakan memang telat, pemberian pakan jam 8.30 pagi sementara kondisi ayam sudah dalam kondisi kelaparan, hal ini menyebabkan pada saat pemberian pakan, ayam langsung berebut. kondisi ini tentu ada dampaknya terhadap ayam, antara lain : 1) konsumsi pakan tidak rata, sehingga bisa menyebabkan juga pertumbuhan ayam tidak rata. 2) karena ada waktu kosong pakan, bisa jadi ada ayam yang mengkonsumsi pakan dalam jumlah besar sehingga terjadi penumpukan pakan di tembolok namun pakan tidak dikonsumsi secara sempurna. 
2. kondisi sekam. (tanggapan bapak Purwoko Jonnatan). jadi malu X_X hehehe........ memang kondisi sekam sudah kurang layak, namun memang sesuai rencana sore hari akan dilakukan penaburan sekam (bela diri hehehe.....). kondisi sekam yang  kurang baik, bisa menyebabkan amoniak tinggi sehingga dampat negatif yang akan muncul begitu banyak. 


Senin, 29 Oktober 2012

Musim Penghujan, Pakan dan Ayam Kerdil

Narasumber Infovet menyampaikan sekitar Oktober 2007 serangan ayam kerdil juga bisa terjadi di ayam pullet, dengan besar kasus 5 persen dari polulasi. Akibatnya berat badan ayam cuma separo dari berat badan ayam normal bahkan ada yang kurang. Diduga terjadi serangan Runting and Stunting Syndrome, di mana dari hasil pemeriksaan terdapat virus Reo-nya.

Kasus kekerdilan pada ayam broiler juga banyak, tidak tergantung strain atau bangsa ayam. Bagaimana pengaruh musim penghujan dengan kejadian kasus ayam kerdil ini?

Pada saat musim penghujan ini kasus penyakit yang terjadi adalah penyakit-penyakit yang terkait dengan pencernaan dan pernafasan. Menurut narasumber Infovet sendiri, Penyakit ayam kerdil sendiri dapat terjadi oleh berbagai sebab. Bisa karena pencernaan terkait dengan pakan, serangan virus Reo, dan bibit ayam pada waktu masih muda.

Untuk itu untuk mengetahui kejadian dan penanggulangan kasus ayam kerdil, perlu: "Dicek dari hulu sampai hilir," kata narasumber Infovet.

Bilamana menjumpai ayam kerdil di peternakan, narasumber Infovet menyatakan ayam tersebut perlu dimusnahkan, agar tidak menyebabkan kerugian lebih lanjut. Contoh kasus pada peternakan ayam pullet tersebut, kejadian ayam kerdil pada ayam umur 2-3 minggu berat badan ayamnya hanya 2-3 ons.

Musim Penghujan dan Pakan

Sudah tentu terkait dengan pakan yang harganya mahal, ayam yang kondisinya demikian jelas merugikan, maka ia menganjurkan ayam yang tidak normal tersebut dimusnahkan atau dimatikan saja, dibakar dan dikubur.

Sebagai langkah pencegahan terkait dengan kondisi pakan yang harganya mahal, di Blitar, narasumber Infovet mengatakan peternak di wilayah ini banyak yang menunda masuknya DOC, meski akhirnya tetap masuk.

Adapun banjir yang terjadi di mana-mana banyak menyebabkan terputusnya jalan dari satu wilayah ke wilayah lain. Misalnya narasumber Infovet yang sedang dalam perjalanan ke peternakan di Klaten di jalan di atas bengawan Solo yang airnya naik meluber di jalan-jalan, menegaskan perhubungan yang putus karena banjir ini berpengaruh secara nyata pada pengiriman ayam dan sarana produksi peternakan yang lain termasuk pakan.

Dengan sendirinya bilamana pasokan pakan terhambat, merupakan faktor yang sangat serius bagi perkembangan ayam pada masa pemeliharaan.

Di samping itu, kaitan antara musim penghujan dan pakan adalah pada soal kualitasnya dengan kualitas pakan. Bahkan, musim penghujan selalu sangat erat kaitannya dengan kualitas pakan ini.

Jamur pada musim penghujan begitu mudah tumbuh dan berbiak di mana-mana, termasuk pada pakan, bisa menyebabkan mikotoksikosis yang ujung-ujungnya juga mampu menyebabkan kekerdilan.

Adanya kandida, jamur, khamir, pada tembolok bisa menyebabkan malaborpsi. Dulu terjadi pada broiler, kini pun terjadi pada layer pada masa pemeliharaan dara. Pertumbuhan terhambat, masa produksi lambat umur. Secara patologi anatomi ada, terjadi malabsorpsi, rusaknya usus, pakreas, terjadinya proventrikulus. Demikian narasumber Infovet.

Lingkungan dengan turun hujan secara terus-menerus, menyebabkan kadar Oksigen turun drastis, terutama di daerah pegunungan, dan kurangnya pemanas. Hal ini pun bisa terjadi pada hacthery (penetasan) yang juga dapat ikut ambil bagian.

Ketika cuaca sungguh tidak beraturan, hujan dan panas, kondisi ini menyebabkan kelembaban, suhu, level oksigen dan CO2 menjadi sangat sulit untuk diatur dan dikendalikan di dalam hatchery.

Padahal kita ketahui: Embrio modern sangat rentan dalam hal kebutuhan oksigen. Jelas tercukupi atau tidaknya O2 ini sangat mempengaruhi aktivitas ayam termasuk dalam kegiatan makan," kata narasumber Infovet.

Dengan demikian kita bisa menarik benang merah antara musim penghujan, pakan dan kekerdilan. Apalagi ternyata, aktivitas makan dan pertumbuhan ayam sendiri yang secara langsung atau tidak langsung berpengaruh pada pertumbuhan ayam sangat dipengaruhi oleh hal-hal tersebut di bawah ini sesuai dengan problem faali ayam.

“Brooding”

Ketika akhirnya peternak memutuskan memasukkan DOC, untuk persiapan kedatangan DOC, persiapan brooding harus sudah siap meliputi chick guard, pemanas, tirai dalam, tirai luar, tempat pakan, tempat minum, bila kandang panggung maka seluruh lantai harus ditutup. Cick guard berdiameter 3 m untuk 750 ekor. Pemanas dinyalakan 2 jam sebelum DOC datang.

Perhatikan suhu brooding setiap saat terutama pada dini hari saat suhu terdingin yaitu sekitar jam 2 malam/pagi, dan pada siang hari saat suhu terpanas yaitu antara jam 11-14.

"Bila kontrol suhu dapat dilakukan dengan baik maka anak ayam akan merasa nyaman. Tidak terlalu panas atau dingin sehingga dapat makan dan minum dengan baik," tutur narasumber Infovet.

Untuk mengatasi permasalahan kekerdilan pada ayam dengan kondisi lingkungan sangat dingin, pemanas harus kuat betul. Pada dua minggu pertama suhu brooding paling rendah 29 derajat Celsius, paling tinggi 35 derajad Celsius.

Itu pada minggu 1, 2, dan 3. Sedangkan pada minggu ke 4, 5 dan 6 suhu sebesar 33 derajad Celsius. Hal tersebut dengan catatan tidak ada fluktuasi suhu yang terlalu tinggi. Demikian anjuran narasumber Infovet.

Yang penting adalah kepekaan terhadap suhu. Usahakan ada termometer untuk setiap kandang. Kalau tidak ada, dapat gunakan tubuh peternak sebagai patokan dan atau melihat pola penyebaran anak ayam yang merata saat itu. Peternak harus tahu kapan mengatur suhu brooding dan kandang.

Perlu diingat, kondisi brooding mempengaruhi penyerapan kuning telur. Bila suhu terlalu panas, kuning telur akan menjadi kering. Sebaliknya bila terlalu panas, saluran kuning telur akan menyempit. Keduanya akan menyebabkan kuning telur menjadi tidak sempurna.

Padahal, dalam kuning telur selain terdapat cadangan makanan, vitamin, hormon, juga sumber kekebalan yang diturunkan dari induk. Bila kuning telur tidak terserap sempurna akan ada masalah kesehatan anak ayam.

“Hal itu penting untuk menjaga kekebalan anak, sebab apabila kekebalan yang diwariskan dari induk lemah, bisa menyebabkan ayam mengalami gagal pertumbuhan dan rentan sakit,” papar narasumber Infovet.

Tirai

Penyesuaian tirai pun perlu dilakukan dengan rajin. Ada saatnya membuka, ada saatnya menutup, bahkan menutup rangkap. Dalam kondisi penuh hujan dan kabut dingin itu, untuk melindungi ayam di kandang-kadangnya, kandang butuh tirai tambahan.

Sayangnya, pada daerah-daerah yang dingin ini, biasanya tirai tidak dirangkap. Tirai rangkap sangat dibutuhkan pada kondisi ini.

Selanjutnya operator jangan teledor mengatur pemanas dan suhu sesuai kondisi dingin atau panas yang berubah-ubah. Untuk membantu kelemahan kedisiplinan ini ada solusi alternatif, yaitu pemanas atau brooder yang otomatis, yang dapat menyesuaikan dengan suhu yang ada dengan lampu yang kecil.

Hal ini dapat membantu mengatasi masalah pada pemanasan yang tidak otomatis, di mana pemanasan tidak mencukupi bila malam dingin, dan siang menjadi kepanasan.

Efek pemanasan yang tidak tepat ini berpengaruh terhadap tidak berhasilnya berat badan mencapai yang diinginkan. Demikian pula tentang pencahayaan, berpengaruh dalam jangka panjang secara nyata.

“Chicken Guard”

Selanjutnya, "Oksigenasi brooding jangan terlalu pengap," tegas narasumber Infovet. Kalau perlu dibantu dengan kipas angin. Syukur bisa diberikan suplai oksigen ke air minum walau belum diketahui betul pengaruhnya karena hal ini diambil pengalaman penerapannya untuk ikan, dan sekarang dicoba diterapkan pada ayam.

Artinya, jangan lupa memperhatikan kepentingan ventilasi ayam. Dengan melebarkan chicken guard, lebih cepat melebar hasilnya ventilasi lebih bagus. Pelebaran ini dilakukan mulai hari ke 5 sesuai pertumbuhan dan kepadatan kandang.

Litter

Adapun, sekam atau serutan yang akan digunakan sebagai litter sebelum digunakan dilakukan desinfeksi lebih dulu. Penggunaan alas koran minggu pertama agar pakan dapat disajikan sedikit demi sedikit dan selalu dalam keadaan segar.

Pastikan bahwa, litter atau alas kandang dalam kondisi yang baik. Litter yang basah, lembab dan menggumpal dapat meningkatkan resiko penyakit. Penggantian litter ini jangan dilakukan secara total, tetapi bertahap, litter yang basah dan menggumpal segera dikeluarkan dan diganti dengan yang baru.

Pada kandang panggung, sekam dikeringkan. “Litter setidaknya selama 2 minggu pertama harus kering dan steril, jangan sampai basah.”

Soal litter ini sangat vital, apalagi pada musim penghujan, jangan sampai litter itu menjadi sarang Reo. Pernah dijumpai litter ayam yang sangat kotor seperti lantai kandang bebek.

"Jangan litter yang seperti itu, litter setebal 20 cm pun, apalagi basah, tetap dapat menjadi tempat berbiaknya Reo." Apalagi, di daerah endemis yang selalu ada infeksi Reovirus, bila pelakuan terhadapnya tidak diterapkan secara ketat.

Olesi Pusar

Cara lain menghadapi hujan yang membasahkan adalah perhatian langsung pada ayamnya sendiri. Air basah dan litter lembab pada litter dapat langsung menyerang individu anak ayam. Seperti anak manusia yang bisa tersarang masuk angin, apalagi anak ayam yang lemah.

Ingat bagaimana kala anak-anak terserang masuk angin? Olesi pusar dengan minyak kayu putih. Kalau anak ayam? Olesi pusar dengan desinfektan.

Bila diketahui 5-10 persen dari jumlah anak ayam itu terdapat pusar basah, segeralah olesi dengan desinfektan, yang aman adalah dengan Iodine, untuk mencegah terjadinya ascites yang mendorong terjadinya kekerdilan.

Pada saat anak ayam umur sehari ini dilepaskan sebelumnya oleskan Iodine satu demi satu pada anak-anak ayam itu, baru dilepaskan satu per satu. Demikian narasumber Infovet.

Hal-hal begini peternak tidak melakukan, mengakibatkan hambatan pertumbuhan ayam sehingga terjadi kegagalan pertumbuhan. Sebaliknya, "Kalau persyaratan dipenuhi kasus lambat tumbuh bisa diminimalisir. Persentase kejadian bisa dikurangi lebih kecil dari 5 persen,” urai narasumber Infovet.

Semakin jelas-lah benang merah antara musim penghujan, pakan dan kekerdilan. Sekaligus: cara kita menghadapi. (YR)

Sumber : http://www.majalahinfovet.com/2008/01/musim-penghujan-pakan-dan-ayam-kerdil.html