Kandang Close Housed

Kandang sistem closed house adalah kandang tertutup yang menjamin keamanan secara biologi (kontak dengan organisme lain) dengan pengaturan ventilasi yang baik sehingga lebih sedikit stress yang terjadi pada ternak.

Broiler Modern

Ayam pedaging hasil persilangan dari berbagai bangsa ayam pedaging, yang memiliki kemampuan untuk menghasilkan daging secara optimal dan edisien, memiliki keunggulan pertumbuhannya yang sangat cepat dengan bobot badan yang tinggi dalam waktu yang relatif pendek, konversi pakan kecil, siap dipotong pada usia muda serta menghasilkan kualitas daging berserat lunak, yang didukung dengan pakan yang berkualitas dan menajemen pemeliharaan yang maksmila

Brooding Period

Brooding Period Brooding Period Brooding Period Brooding Period Brooding Period Brooding Period Brooding Period Brooding Period Brooding Period Brooding Period Brooding Period Brooding Period Brooding Period

DOC ( Day Old Chick )

DOC ( Day Old Chick ) DOC ( Day Old Chick ) DOC ( Day Old Chick ) DOC ( Day Old Chick ) DOC ( Day Old Chick ) DOC ( Day Old Chick ) DOC ( Day Old Chick ) DOC ( Day Old Chick ) DOC ( Day Old Chick )

Pakan Broiler

Campuran dari beberapa bahan baku pakan, baik yang sudah lengkap maupun yang masih akan dilengkapi, yang disusun secara khusus dan mengandung zat gizi yang mencukupi kebutuhan ternak untuk dapat dipergunakan sesuai dengan jenis ternaknya.

Senin, 10 Oktober 2011

Manajemen Hatchery: Dari Sebutir Telur Menjadi DOC


www.poultryindonesia.com. Hatchery sebagai salah satu rangkaian usaha pembibitan merupakan pintu utama sebelum DOC dipasarkan. Guna menghasilkan DOC yang berkualitas, perlu ada seleksi ketat yang dilakukan bertahap agar diperoleh keseragaman produksi yang muaranya adalah kualitas. Penentuan kualitas DOC dimulai dari grade, umur indukan, berat telur, proses penetasan, packing dan terakhir suara pelanggan. Inti dari seleksi tersebut adalah mencapai keseragaman, baik untuk mendapatkan telur tetas maupun di level budidaya.

Keseragaman kualitas telur tetas juga memengaruhi kinerja mesin. Telur dengan berat dan ukuran sama akan memudahan setting dan kontrol yang berimbas pada produksi panas dari mesin tetas akan lebih merata dan stabil.
Dalam hal grade, setiap perusahaan memiliki kebijakan yang berbeda. Penentuan grade DOC biasanya berdasarkan usia indukan yang bisa disimpulkan menjadi bibit muda, menjelang puncak produksi, puncak produksi dan menjelang penurunan produksi atau disebut bibit tua.
Disamping berdasarkan usia indukan, grading juga bisa ditentukan dari perkembangan fisiologis ayam. Meski umur indukan sudah masuk dalam grade usia tertentu, namun jika berat telur tetasnya tidak sesuai standar maka pihak hatchery dapat memutuskan telur tersebut tidak ikut ditetaskan. Namun jika merujuk pada Standar Nasional Indonesia (SNI) maka berat DOC FS minimal 37 gram atau 65% dari berat telur tetas. Berdasar SNI pula, setiap bibit yang dihasilkan harus bebas pullorum.
Dalam hal prosedur packing DOC dan pendistribusian yang baik, harus dilengkapi data-data yang sesuai dengan yang tertera di box DOC. Data tersebut meliputi strain, jumlah, tanggal menetas, garansi bebas penyakit pulorum dan petugas penentuan grade DOC. Pada box DOC sesuai standar kebutuhan seperti ventilasi, kepadatan dan keselamatannya. Selain itu, alat transportasi pengiriman DOC dilengkapi dengan peralatan ventilasi untuk menjaga kenyamanan anak ayam selama dalam pengiriman dan pengiriman DOC segera setelah packing selesai.
Meski begitu, pencapaian kualitas yang baik tidak dapat diraih jika tidak menerapkan biosekuriti terutama untuk hal sanitasi dan fumigasi. Sebelum menjadi DOC, telur tetas sudah mengalami beberapa kali sanitasi dan fumigasi mulai dari seleksi di kandang hingga selama proses penetasan. Fungsinya adalah membunuh bibit penyakit dan mencegah tumbuhnya jamur Aspergillus.
Telur tetas yang berasal dari kandang indukan harus diseleksi dengan kualifikasi bukan telur inap dan tingkat kekotoran. Bahkan telur yang meski tingkat kekotorannya masih ditoleransi tetap dikelompokkan tersendiri agar tidak “mengganggu” kualitas telur yang lain.
Selama proses penetasan sistem ventilasi juga harus diperhatikan. Kipas penarik udara dari luar harus dipastikan bekerja normal. Jika tidak, udara yang diambil juga udara panas Pemanasan yang tidak merata atau terlalu panas akan membuat DOC tetas prematur. Imbasnya, jarak waktu pull chick juga lebih panjang. DOC yang terlalu lama di penetasan akan mengalami dehidrasi, kaki kering dan selanjutnya memengaruhi keseragaman dan pertumbuhan di level budidaya. Faktor yang lain adalah memperhatikan titik krusial dalam penetasan, yakni tiga hari sebelum menetas di mana mulai berfungsinya paru-paru sebagai organ pernafasan. Pada saat itu, sirkulasi udara dan fluktuasi suhu di dalam hatchery harus benar-benar terkontrol dengan baik.
Dan terakhir adalah suara konsumen, baik buruknya kualitas DOC yang dihasilkan suatu breeding farm adalah mampu menujukkan performanya ketika dipelihara. Jika selama dipelihara memiliki performa yang buruk, maka perlu ada intropeksi terhadap manajemen budidaya. Oleh karenanya, perlu ada standarisasi selama budidaya terutama mulai DOC datang hingga selama fase brooding. Namun jika semua hal yang dilakukan oleh peternak sudah benar, maka perlu ada kontrol di level breeding. Hsn.
Sumber : http://poultryindonesia.com/modules.php?name=News&file=article&sid=1451

Rabu, 05 Oktober 2011

Vaksin ND: Perlu Isolat Lokal?


Memperdebatkan perlu tidaknya penggunaan isolat lokal sebagai master seed vaksin ND, agar kekebalan yang dihasilkan optimal
Catatan ilmiah itu menyebut angka sekitar 80% isolat virus ND yang diisolasi dari berbagai peternakan ayam di Indonesia tergolong VVND (Viscerotropic Velogenic Newcastle Diseases). Nama tersebut merujuk kepada bentuk serangan terhadap sistem pencernaan ayam dengan tingkat keganasan (virulensi) yang tinggi.
Velogenic menunjukkan kelompok virus ber-virulensi tinggi, dan viscerotropic menunjukkan organ pencernaan sebagai target serangan. Angka di atas disodorkan Sugeng Pujiono, General Manager PT Caprifarmindo Labs (Veterinary & Aquaculture Division Sanbe) saat ditemui TROBOS di Bandung akhir bulan lalu.
Sementara, lanjut Sugeng, vaksin yang banyak beredar di pasaran untuk memproteksi ayam dari penyakit yang dikenal juga dengan nama tetelo ini menggunakan master seed (benih virus) yang berbeda karakter. “Umumnya, vaksin yang tersedia menggunakan isolat virus strain lasota, B1, atau F sebagai master seed,” kata dokter hewan alumnus Universitas Airlangga ini. Strain virus yang disebutnya itu masuk kategori lentogenic (ringan) atau mesogenic (kurang ganas) sehingga tingkat proteksinya tidak optimal.
Dikatakan Sugeng, pihaknya telah melakukan sequences (pengurutan) DNA virus. “Hasilnya, virus ND yang berkembang di lapangan saat ini berbeda jauh dari karakter virus yang umum digunakan untuk vaksin di pasaran,” terangnya. Menurut dia, penggunaan vaksin homolog (menggunakan isolat lokal) menjadi tuntutan.
Pandangan serupa disampaikan Teguh Yodiantara Prajitno, Presiden Direktur PT Vaksindo Satwa Nusantara (Vaksindo). Hasil karakterisasi virus yang dilakukan Vaksindo menunjukkan virus ND di Indonesia sudah bergeser. Sampel virus ND dikoleksi dari beberapa farm di Banjarmasin, Bali, Kudus, Makassar, Sragen dan Sukorejo.
Dan pemetaan karakterisasi pada “pohon filogenik virus” tergambar jarak perbedaan virulensi yang semakin jauh dengan strain lasota dan B1. “Antigen atau virus yang kebanyakan digunakan vaksin ND saat ini masuk genotipe 1 dan 2, sementara virus ND yang berkembang di lapangan masuk genotipe 7,” papar doktor biomolekuler tamatan Jerman ini. 
Ia menambahkan, pergeseran karakter virus ini bisa dipengaruhi banyak faktor, termasuk musim atau iklim, serta seringnya paparan penyakit pada farm tersebut. Hasil uji yang dikembangkan Vaksindo juga menunjukkan, penggunaan isolat virus ND lokal sebagai vaksin memberikan proteksi yang lebih tinggi ketimbang vaksin ND komersil yang beredar di pasaran saat ini.
Tetapi tak sedikit yang pendapatnya berseberangan dengan anggapan ini. Technical Department Manager PT Romindo Primavetcom, Nurvidia Machdum salah satunya. Ia menegaskan vaksin ND yang digunakan peternak saat ini masih efektif menghadang virus di lapangan, kendati isolat virus yang digunakan bukanlah dari hasil isolasi virus lokal. “Vaksin dengan antigen strain lasota asal Amerika misalnya, terbukti memberikan protektivitas yang baik di lapangan,” dokter hewan ini menyodorkan fakta. Paparan virus ND pada kelompok ayam yang divaksin dengan strain lasota tidak menimbulkan kematian.

Tidak VVND, Tidak Optimal
Panjang lebar Teguh menjabarkan. Vaksin ND aktif berfungsi memberikan kekebalan lokal pada saluran pernafasan ayam, sementara vaksin inaktif berfungsi memberi kekebalan sistemik pada organ-organ tubuh ayam melalui sistem peredaran darah. Sebaiknya proteksi pada ayam dilakukan menggunakan kedua jenis vaksin tersebut. Vaksin aktif diberikan di umur awal, biasanya berupa tetes mata/hidung, sementara inaktif dalam bentuk injeksi.
Menurut dia, idealnya isolat seed untuk vaksin sama dengan virus lapangan. Vaksin yang beredar umumnya berasal dari Amerika dan masuk golongan lentogenic dan mesogenic. Tentunya tidak cocok dengan virus ND yang ada di Indonesia yang masuk golongan velogenic atau VVND. Dikatakannya, vaksin ND berbasis strain lasota dan B1 cukup protektif tapi tidak optimal.
Satu catatan penting, penggunaan vaksin berbasis velogonic strain hanya dapat diamati responnya pada ayam berumur panjang, layer atau breeder. Pasalnya, pembentukan antibodi atau imunitas (imun kompeten) baru terjadi pada ayam umur 4 – 5 minggu. Sementara broiler (ayam pedaging), umur 32 hari sudah dipanen. “Tidak heran vaksin ND golongan lentogenic masih relatif efektif pada broiler,” terang Teguh. Sehingga vaksin dengan velogenic strain lebih diutamakan bagi peternakan layer (ayam petelur) dan breeding (pembibitan).

Isolat lokal
Sampai hari ini peternak umumnya masih menggunakan vaksin ND bukan isolat lokal. Menurut Teguh, karena belum cukup tersedia vaksin dengan isolat lokal. Ia mengaku, Vaksindo masih melakukan pengembangan penelitian terhadap vaksin ND isolat lokal, dan dalam waktu dekat akan meluncurkan produknya.
Sementara Caprifarmindo, menurut Sugeng, sudah memproduksi vaksin ND killed (inaktif) dengan strain lokal sebagai master seed terhitung Juni 2009 lalu. Virus tersebut merupakan hasil penelitian Balai Besar Penelitian Veteriner (BBalitvet), Kementerian Pertanian, Bogor. “Tergolong VVND, berasal dari Pulau Jawa dan diberi nama strain ITA,” imbuh Sugeng.
Diproduksi sebagai vaksin inaktif karena virus ITA tergolong ganas, tujuannya untuk menekan risiko shading (pencemaran/pelepasan virus) ke lingkungan. Untuk vaksin ND aktif, Caprifarmindo menggunakan isolat lentogenic dan mesogenic.
Dari 10 isolat lokal ND asal berbagai daerah yang diuji, kata Sugeng, strain ITA paling layak digunakan sebagai vaksin. Uji potensi, uji tantang dan uji stabilitas hasilnya sangat baik. Selebihnya, ada yang uji titer HI-nya tinggi tetapi diuji tantang dengan virus lapang ayam tetap terserang.  Ada juga seed vaksin yang titernya tinggi, uji tantang protektif, namun menimbulkan shading ke lingkungan dalam waktu yang panjang (bisa sampai 10 hari). “Tentunya tidak layak sebagai vaksin,” ia beralasan.
Ditambahkannya, sementara vaksin ND strain lasota hanya menembus titer HI sampai log 25, vaksin ND strain ITA mampu menembus titer HI sampai log 211. “Artinya strain ITA bisa membentuk antibodi lebih cepat dan bertahan lebih lama,” ujarnya setengah berpromosi.

Kalau MAB Tinggi
Sebagian kalangan menengarai ketidakmiripan isolat atau jauhnya antigen dalam vaksin dengan virus lapang sebagai salah satu sebab tidak optimalnya vaksinasi (kekebalan yang terbentuk tidak maksimal) yang berpotensi terjadinya “kebocoran” ND di farm. Sehingga kendati sudah menerapkan program vaksinasi, outbreak (wabah) masih ada, alias bocor. Dan persoalan menjadi lebih kompleks ketika kasus bocor ini muncul di breeding farm. Pasalnya, infeksi pada induk berpotensi pada tingginya titer maternal antibody (MAB) pada DOC (anak ayam) yang dihasilkan.

Selengkapnya baca di Majalah TROBOS Edisi Oktober 2010

Sumber : http://www.trobos.com/show_article.php?rid=28&aid=2498

Senin, 03 Oktober 2011

Mensiasati Kandang di Daerah Panas

Budidaya broiler semakin hari, semakin banyak tantangannya, olehnya itu kualitas kinerja para pelaku budidaya harus terus-menerus ditingkatkan agar performa yang diperoleh selalu lebih baik.

Beberapa  tahun yang lalu dalam hal budidaya lebih diprioritaskan pada :
1.     Pakan
2.     Air
3.     Ventilasi
Namun saat ini diprioritaskan  pada :
1.     Ventilasi
2.     Air
3.     Pakan
Melihat kenyataan ini  ternyata dalam budidaya broiler tidak bersifat stabil akan tetapi sangat dinamis, oleh karena itu kinerja operator kandang harus selalu ditingkatkan dari periode ke periode pemeliharaan. Saat ini bahkan beberapa teori-teori lama masih sangat dipertahankan oleh beberapa kalangan peternak,  dimana teori-teori  tersebut sudah tidak seiring dengan laju perkembangan genetik ayam broiler sehingga performa akhir pemeliharaan tidak memuaskan hasilnya.
Terkadang peternak atau operator kandang masih mengacu pada pola pemeliharaan yang tidak melihat kondisi ayam, akan tetapi berdasarkan hanya kebiasaan dalam budidaya, sehingga pada hasil akhir pemeliharaan tidak sesuai dengan  harapan. Para peternak untuk mendapatkan hasil yang maximal harus selalu memenuhi kebutuhan ayam yang dipelihara, termasuk sistem perkandangannya.
Sistem perkandangan untuk budidaya broiler di Indonesia mayoritas masih menggunakan sistem terbuka (open house), padahal induk (Parent Stock) dari final Stock (DOC) sudah dipelihara dengan sistem perkandangan dengan closed house system, sepantasnya DOC Final Stock juga harus dipelihara dalam kondisi kandang closed house system untuk  mengantisipasi Heat Stress sehingga didapatkan performa yang lebih baik.  Selain dari itu kondisi iklim di Indonesia yang tropis di tambah lagi dengan pengaruh Global Warming, semakin susah untuk menghindari heat stress pada unggas. Kondisi heat stress mampu menurunkan performa produksi, karena mengakibatkan penurunan feed intake, penurunan daya tahan tubuh serta penurunan kualitas karkas.
Perpindahan panas pada unggas dapat terjadi dengan beberapa cara, di antaranya ialah sebagai berikut :
1.     Radiasi
Transfer panas dari objek yang hangat ke objek yang dingin melalui gelombang elekromagnetik. Di dalam kandang kehilangan panas melalui radiasi sangat sedikit, karena suhu permukaan kandang memiliki suhu yang lebih rendah dari suhu permukaan ayam.
2.     Konduksi
Transfer panas melalui medium padat, kehilangan panas sangat sedikit dikandang hanya selama cuaca panas. Alas kandang merupakan isolator yang baik mengurangi kehilangan panas konduktif dari ayam ke lantai. Pengecualian dengan ayam dikandang dengan lantai beton tanpa ada alas kandang atau ayam dalam sangkar.
3.     Konveksi
Transfer panas melalui fluida bergerak, pergerakan udara dari ayam selama cuaca panas, panas ditransfer dari ayam ke udara.
Akan tetapi meskipun mayoritas kandang untuk budidaya broiler masih sistem terbuka (open house)  bukan berarti hasil budidaya broiler gagal total, karena  permasalahan tersebut dapat diantisipasi dengan :
1.     Membangun kandang di lokasi yang memiliki ventilasi atau sirkulasi udara yang cukup baik
2.     Membangun kandang dengan arah yang tepat, membujur dari timur ke Barat
3.     Membangun kandang dengan konstruksi yang tepat
4.     Membangun kandang dengan jarak yang tepat, sehingga ventilasi dilingkungan kandang lebih lancar, seperti  Gambar 5 dibawah ini :
Jarak antara kandang yang satu dengan yang lainnya dapat dihitung dengan menggunakan rumus dibawah ini :
D = 0.4 x H x L0.5
Keterangan :
D    = Jarak antara kandang (Diukur dari bubungan kandang satu dengan  bubungan kandang berikutnya).
0.4  = Konstanta.
H    = Tinggi Kandang.
L     =  Panjang Kandang
0.5  =  Konstanta

5.     Menggunakan atap kandang yang sesuai.
Untuk mengurangi transfer panas dari atap ke ayam sebaiknya digunakan atap kandang dari alang-alang (daerah Nusa Tenggara Barat), dari daun Rumbia (daerah Sulawesi), akan tetapi umur pakai atap seperti ini hanya berkisar antara 1,5 – 2 tahun. Penggunaan atap berbahan asbes, genteng, zeng galvanis diperbolehkan jika mengikuti konstruksi pembuatan kandang.
6.     Penambahan  kipas didalam kandang
Untuk mengantisipasi panas yang ada dalam kandang dapat diatasi dengan penambahan Fan didalam kandang.
7.     Mengatur  density ayam dalam kandang.
Sebaiknya kandang didaerah panas diisi dengan kepadatan ayam di dalam kandang berkisar antara 12 – 13 kg/m2.
8.     Sistem Pengaturan Tirai Kandang Yang Sesuai  Kebutuhan  Ayam, tirai kandang di gulung dari atas ke bawah, tirai digulung dengan rapi.
9.     Pelebaran area brooding sesuai dengan kondisi ayam, tidak mengikuti kebiasaan.
10.  Mengubah kandang open house system menjadi closed house system
Karena kondisi lingkungan yang tidak menentu sebaiknya kandang  open house di modifikasi menjadi kandang closed house bagi yang sudah memiliki kandang, akan tetapi bagi yang baru  mau memulai budidaya broiler, sebaiknya kandang yang dibangun closed house system.
Kesimpulan :
Dengan semakin banyaknya tantangan dalam budi daya broiler, terutama dalam hal kondisi lingkungan yang panas dan susah dikendalikan,  maka disarankan agar supaya mengantisipasi kondisi lingkungan yang panas. Sudah saatnya para pelaku bisnis perunggasan beralih dari open house system ke closed house system.
Selengkapnya simak di Majalah Poultry Indonesia edisi cetak September 2011

Sumber : http://www.poultryindonesia.com/modules.php?name=News&file=article&sid=1562

Ayam TOP


Asyiknya kalo liat ayam kaya gini hmm.......

Feeder Chick

alternatif feeder chick tray yang "murah meriah' :) selain itu juga bisa menjadi jalan keluar supaya pakan pada masa brooding tidak banyak terbuang dan tidak cepat kotor (bercampur dengan sekam)

Rabu, 06 Juli 2011

ZEOLIT SEBAGAI ALTERNATIF PENURUN EMISI GAS NH3 PADA PETERNAKAN AYAM BROILER DALAM UPAYA MITIGASI PEMANASAN GLOBAL

Peternakan yang merupakan sub sektor pertanian dianggap sebagai salah satu faktor penyumbang emisi gas rumah kaca dalam jumlah besar yang diperkirakan mampu menyumbang sebesar 18% emisi gas penyebab pemanasan global. Salah satu usaha peternakan yang berkembang pesat dan memiliki permintaan pasar yang tinggi adalah budidaya ayam broiler. Namun demikian, meningkatnya populasi ayam broiler juga akan memberikan pengaruh negatif bagi
ayam, manusia dan lingkungan akibat peningkatan emisi gas beracun dan partikel lain yang dihasilkan dari ekskreta ayam broiler. Salah satu emisi gas beracun yang menimbulkan kerugian besar bagi peternakan ayam broiler adalah ammonia (NH3). Emisi gas ini dapat berdampak buruk terhadap peningkatan efek rumah kaca dan masalah lingkungan berupa bau tidak sedap. Tulisan ini bertujuan untuk memberikan solusi alternatif penurunan kadar NH3 sehingga akan berpengaruh secara langsung pada penurunan jumlah emisi gas peternakan yang menjadi faktor penyebab terjadinya pemanasan global.

Populasi ayam broiler pada tahun 2009 mencapai 930.317.847 ekor (Badan Pusat Statistik, 2009) yang asumsikan menghasilkan ekskreta 141,2 ton dan emisi NH3 97.962.469 ppm. Apabila diperkirakan pada tahun 2013 populasi
ayam broiler dapat meningkat sejalan dengan meningkatnya konsumsi daging ayam broiler sebanyak 31% dari 2009 maka jumlah ekskreta ayam broiler yang dihasilkan sekitar 23.764,9 ton sehingga diperkirakan jumlah emisi NH3 yang dihasilkan adalah 128.330.834,8 ppm.

Berdasarkan hal tersebut, maka diperlukan teknologi yang mudah dan aplikatif sehingga bisa diterapkan secara optimal oleh peternak ayam broiler. Alternatif yang dapat digunakan untuk menanggulangi masalah emisi peternakan tersebut adalah dengan menggunakan zeolit pada litter peternakan ayam broiler. Kadar NH3 yang bisa dikurangi dengan menggunakan zeolit adalah sekitar 35,5% (Rudzik 1998). Apabila teknologi penggunaan zeolit ini diterapkan oleh peternak (minimal 20% dari keseluruhan populasi ayam broiler di Indonesia), maka jumlah emisi NH3 yang dapat dikurangi pada tahun 2009 dan 2013 adalah 34.776.677 ppm dan 82.773.388 ppm NH3 dari total produksi NH3 di Indonesia.

Teknik implementasi yang akan dilakukan dalam menjalankan alternatif ini adalah memberikan pemahaman dan melakukan sosialisasi secara luas kepada peternak ayam broiler tentang pentingnya penambahan zeolit pada litter/ ekskreta ayam broiler untuk menurunkan kadar NH3. Manfaat yang akan didapat dari aplikasi gagasan ini adalah terdapat cara pemanfaatan zeolit sebagai penurun emisi gas beracun dan bau tidak sedap pada ekskreta ayam broiler. Pihak-pihak yang diharapkan dapat membantu dalam implementasi gagasan ini adalah
Kementrian Pertanian, Direktorat Jendral Peternakan dan Dinas Peternakan setempat, Instansi Perguruan Tinggi dan Lembaga Riset, serta Gabungan Kelompok Peternak.

Download Sumber Tulisan/Tulisan Lengkap

Sabtu, 18 Juni 2011

Kemitraan Ayam Broiler


Salam bagi para rekan-rekan peternak ayam broiler. Kami dari perusahaan kemitraan ayam broiler menawarkan untuk menjalin kerjasama kemitraan ayam broiler. Insya Allah, sistem kemitraan dengan perusahaan kami bersifat saling menguntungkan dan didasarkan pada asas kejujuran dan saling percaya.

Peternak broiler yang tertarik untuk bekerjasama dengan kami diutamakan di daerah Bandung dan sekitarnya (Rancaekek, Soreang, Cimahi, Banjaran, Ciwidey, Lembang, Padalarang, dll).
Mohon kirimkan data-data peternakan yang dimiliki, seperti :
alamat lengkap, no.telp, no.hp (jika ada), email (jika ada), tenaga kerja yang dimiliki dan pengalamannya, data hasil ternak periode sebelumnya (rata-rata kematian, rata-rata berat, FC, Umur Panen, IP), jaminan keamanan yang ada bagi aset perusahaan (sapronak), jaminan yang diajukan (surat tanah, BPKB, atau uang).

Saya tunggu kerjasama anda bersama kami. Kontak Kami melalui e-mail : tonikomara@gmail.com
Terimakasih dan sukses untuk kita bersama.

Contact Person :
Toni Komara
E-mail :
tonikomara@gmail.com
Alamat :
Ruko No 47 Jl. Mekar Agung Perumahan Mekar Wangi Bandung
Telepon/Fax :
(022) 85240977
HP :
081220888472