Senin, 03 Oktober 2011
Mensiasati Kandang di Daerah Panas
07.26
No comments
Budidaya broiler semakin hari, semakin banyak tantangannya, olehnya itu kualitas kinerja para pelaku budidaya harus terus-menerus ditingkatkan agar performa yang diperoleh selalu lebih baik.
Beberapa tahun yang lalu dalam hal budidaya lebih diprioritaskan pada :
1. Pakan
2. Air
3. Ventilasi
Namun saat ini diprioritaskan pada :
1. Ventilasi
2. Air
3. Pakan
Melihat kenyataan ini ternyata dalam budidaya broiler tidak bersifat stabil akan tetapi sangat dinamis, oleh karena itu kinerja operator kandang harus selalu ditingkatkan dari periode ke periode pemeliharaan. Saat ini bahkan beberapa teori-teori lama masih sangat dipertahankan oleh beberapa kalangan peternak, dimana teori-teori tersebut sudah tidak seiring dengan laju perkembangan genetik ayam broiler sehingga performa akhir pemeliharaan tidak memuaskan hasilnya.
Terkadang peternak atau operator kandang masih mengacu pada pola pemeliharaan yang tidak melihat kondisi ayam, akan tetapi berdasarkan hanya kebiasaan dalam budidaya, sehingga pada hasil akhir pemeliharaan tidak sesuai dengan harapan. Para peternak untuk mendapatkan hasil yang maximal harus selalu memenuhi kebutuhan ayam yang dipelihara, termasuk sistem perkandangannya.
Sistem perkandangan untuk budidaya broiler di Indonesia mayoritas masih menggunakan sistem terbuka (open house), padahal induk (Parent Stock) dari final Stock (DOC) sudah dipelihara dengan sistem perkandangan dengan closed house system, sepantasnya DOC Final Stock juga harus dipelihara dalam kondisi kandang closed house system untuk mengantisipasi Heat Stress sehingga didapatkan performa yang lebih baik. Selain dari itu kondisi iklim di Indonesia yang tropis di tambah lagi dengan pengaruh Global Warming, semakin susah untuk menghindari heat stress pada unggas. Kondisi heat stress mampu menurunkan performa produksi, karena mengakibatkan penurunan feed intake, penurunan daya tahan tubuh serta penurunan kualitas karkas.
Perpindahan panas pada unggas dapat terjadi dengan beberapa cara, di antaranya ialah sebagai berikut :
1. Radiasi
Transfer panas dari objek yang hangat ke objek yang dingin melalui gelombang elekromagnetik. Di dalam kandang kehilangan panas melalui radiasi sangat sedikit, karena suhu permukaan kandang memiliki suhu yang lebih rendah dari suhu permukaan ayam.
2. Konduksi
Transfer panas melalui medium padat, kehilangan panas sangat sedikit dikandang hanya selama cuaca panas. Alas kandang merupakan isolator yang baik mengurangi kehilangan panas konduktif dari ayam ke lantai. Pengecualian dengan ayam dikandang dengan lantai beton tanpa ada alas kandang atau ayam dalam sangkar.
3. Konveksi
Transfer panas melalui fluida bergerak, pergerakan udara dari ayam selama cuaca panas, panas ditransfer dari ayam ke udara.
Akan tetapi meskipun mayoritas kandang untuk budidaya broiler masih sistem terbuka (open house) bukan berarti hasil budidaya broiler gagal total, karena permasalahan tersebut dapat diantisipasi dengan :
1. Membangun kandang di lokasi yang memiliki ventilasi atau sirkulasi udara yang cukup baik
2. Membangun kandang dengan arah yang tepat, membujur dari timur ke Barat
3. Membangun kandang dengan konstruksi yang tepat
4. Membangun kandang dengan jarak yang tepat, sehingga ventilasi dilingkungan kandang lebih lancar, seperti Gambar 5 dibawah ini :
Jarak antara kandang yang satu dengan yang lainnya dapat dihitung dengan menggunakan rumus dibawah ini :
D = 0.4 x H x L0.5
Keterangan :
D = Jarak antara kandang (Diukur dari bubungan kandang satu dengan bubungan kandang berikutnya).
0.4 = Konstanta.
H = Tinggi Kandang.
L = Panjang Kandang
0.5 = Konstanta
5. Menggunakan atap kandang yang sesuai.
Untuk mengurangi transfer panas dari atap ke ayam sebaiknya digunakan atap kandang dari alang-alang (daerah Nusa Tenggara Barat), dari daun Rumbia (daerah Sulawesi), akan tetapi umur pakai atap seperti ini hanya berkisar antara 1,5 – 2 tahun. Penggunaan atap berbahan asbes, genteng, zeng galvanis diperbolehkan jika mengikuti konstruksi pembuatan kandang.
6. Penambahan kipas didalam kandang
Untuk mengantisipasi panas yang ada dalam kandang dapat diatasi dengan penambahan Fan didalam kandang.
7. Mengatur density ayam dalam kandang.
Sebaiknya kandang didaerah panas diisi dengan kepadatan ayam di dalam kandang berkisar antara 12 – 13 kg/m2.
8. Sistem Pengaturan Tirai Kandang Yang Sesuai Kebutuhan Ayam, tirai kandang di gulung dari atas ke bawah, tirai digulung dengan rapi.
9. Pelebaran area brooding sesuai dengan kondisi ayam, tidak mengikuti kebiasaan.
10. Mengubah kandang open house system menjadi closed house system
Karena kondisi lingkungan yang tidak menentu sebaiknya kandang open house di modifikasi menjadi kandang closed house bagi yang sudah memiliki kandang, akan tetapi bagi yang baru mau memulai budidaya broiler, sebaiknya kandang yang dibangun closed house system.
Kesimpulan :
Dengan semakin banyaknya tantangan dalam budi daya broiler, terutama dalam hal kondisi lingkungan yang panas dan susah dikendalikan, maka disarankan agar supaya mengantisipasi kondisi lingkungan yang panas. Sudah saatnya para pelaku bisnis perunggasan beralih dari open house system ke closed house system.
Selengkapnya simak di Majalah Poultry Indonesia edisi cetak September 2011
Sumber : http://www.poultryindonesia.com/modules.php?name=News&file=article&sid=1562
Feeder Chick
Rabu, 06 Juli 2011
ZEOLIT SEBAGAI ALTERNATIF PENURUN EMISI GAS NH3 PADA PETERNAKAN AYAM BROILER DALAM UPAYA MITIGASI PEMANASAN GLOBAL
08.48
No comments
Peternakan yang merupakan sub sektor pertanian dianggap sebagai salah satu faktor penyumbang emisi gas rumah kaca dalam jumlah besar yang diperkirakan mampu menyumbang sebesar 18% emisi gas penyebab pemanasan global. Salah satu usaha peternakan yang berkembang pesat dan memiliki permintaan pasar yang tinggi adalah budidaya ayam broiler. Namun demikian, meningkatnya populasi ayam broiler juga akan memberikan pengaruh negatif bagi
ayam, manusia dan lingkungan akibat peningkatan emisi gas beracun dan partikel lain yang dihasilkan dari ekskreta ayam broiler. Salah satu emisi gas beracun yang menimbulkan kerugian besar bagi peternakan ayam broiler adalah ammonia (NH3). Emisi gas ini dapat berdampak buruk terhadap peningkatan efek rumah kaca dan masalah lingkungan berupa bau tidak sedap. Tulisan ini bertujuan untuk memberikan solusi alternatif penurunan kadar NH3 sehingga akan berpengaruh secara langsung pada penurunan jumlah emisi gas peternakan yang menjadi faktor penyebab terjadinya pemanasan global.
Populasi ayam broiler pada tahun 2009 mencapai 930.317.847 ekor (Badan Pusat Statistik, 2009) yang asumsikan menghasilkan ekskreta 141,2 ton dan emisi NH3 97.962.469 ppm. Apabila diperkirakan pada tahun 2013 populasi
ayam broiler dapat meningkat sejalan dengan meningkatnya konsumsi daging ayam broiler sebanyak 31% dari 2009 maka jumlah ekskreta ayam broiler yang dihasilkan sekitar 23.764,9 ton sehingga diperkirakan jumlah emisi NH3 yang dihasilkan adalah 128.330.834,8 ppm.
Berdasarkan hal tersebut, maka diperlukan teknologi yang mudah dan aplikatif sehingga bisa diterapkan secara optimal oleh peternak ayam broiler. Alternatif yang dapat digunakan untuk menanggulangi masalah emisi peternakan tersebut adalah dengan menggunakan zeolit pada litter peternakan ayam broiler. Kadar NH3 yang bisa dikurangi dengan menggunakan zeolit adalah sekitar 35,5% (Rudzik 1998). Apabila teknologi penggunaan zeolit ini diterapkan oleh peternak (minimal 20% dari keseluruhan populasi ayam broiler di Indonesia), maka jumlah emisi NH3 yang dapat dikurangi pada tahun 2009 dan 2013 adalah 34.776.677 ppm dan 82.773.388 ppm NH3 dari total produksi NH3 di Indonesia.
Teknik implementasi yang akan dilakukan dalam menjalankan alternatif ini adalah memberikan pemahaman dan melakukan sosialisasi secara luas kepada peternak ayam broiler tentang pentingnya penambahan zeolit pada litter/ ekskreta ayam broiler untuk menurunkan kadar NH3. Manfaat yang akan didapat dari aplikasi gagasan ini adalah terdapat cara pemanfaatan zeolit sebagai penurun emisi gas beracun dan bau tidak sedap pada ekskreta ayam broiler. Pihak-pihak yang diharapkan dapat membantu dalam implementasi gagasan ini adalah
Kementrian Pertanian, Direktorat Jendral Peternakan dan Dinas Peternakan setempat, Instansi Perguruan Tinggi dan Lembaga Riset, serta Gabungan Kelompok Peternak.
Download Sumber Tulisan/Tulisan Lengkap
ayam, manusia dan lingkungan akibat peningkatan emisi gas beracun dan partikel lain yang dihasilkan dari ekskreta ayam broiler. Salah satu emisi gas beracun yang menimbulkan kerugian besar bagi peternakan ayam broiler adalah ammonia (NH3). Emisi gas ini dapat berdampak buruk terhadap peningkatan efek rumah kaca dan masalah lingkungan berupa bau tidak sedap. Tulisan ini bertujuan untuk memberikan solusi alternatif penurunan kadar NH3 sehingga akan berpengaruh secara langsung pada penurunan jumlah emisi gas peternakan yang menjadi faktor penyebab terjadinya pemanasan global.
Populasi ayam broiler pada tahun 2009 mencapai 930.317.847 ekor (Badan Pusat Statistik, 2009) yang asumsikan menghasilkan ekskreta 141,2 ton dan emisi NH3 97.962.469 ppm. Apabila diperkirakan pada tahun 2013 populasi
ayam broiler dapat meningkat sejalan dengan meningkatnya konsumsi daging ayam broiler sebanyak 31% dari 2009 maka jumlah ekskreta ayam broiler yang dihasilkan sekitar 23.764,9 ton sehingga diperkirakan jumlah emisi NH3 yang dihasilkan adalah 128.330.834,8 ppm.
Berdasarkan hal tersebut, maka diperlukan teknologi yang mudah dan aplikatif sehingga bisa diterapkan secara optimal oleh peternak ayam broiler. Alternatif yang dapat digunakan untuk menanggulangi masalah emisi peternakan tersebut adalah dengan menggunakan zeolit pada litter peternakan ayam broiler. Kadar NH3 yang bisa dikurangi dengan menggunakan zeolit adalah sekitar 35,5% (Rudzik 1998). Apabila teknologi penggunaan zeolit ini diterapkan oleh peternak (minimal 20% dari keseluruhan populasi ayam broiler di Indonesia), maka jumlah emisi NH3 yang dapat dikurangi pada tahun 2009 dan 2013 adalah 34.776.677 ppm dan 82.773.388 ppm NH3 dari total produksi NH3 di Indonesia.
Teknik implementasi yang akan dilakukan dalam menjalankan alternatif ini adalah memberikan pemahaman dan melakukan sosialisasi secara luas kepada peternak ayam broiler tentang pentingnya penambahan zeolit pada litter/ ekskreta ayam broiler untuk menurunkan kadar NH3. Manfaat yang akan didapat dari aplikasi gagasan ini adalah terdapat cara pemanfaatan zeolit sebagai penurun emisi gas beracun dan bau tidak sedap pada ekskreta ayam broiler. Pihak-pihak yang diharapkan dapat membantu dalam implementasi gagasan ini adalah
Kementrian Pertanian, Direktorat Jendral Peternakan dan Dinas Peternakan setempat, Instansi Perguruan Tinggi dan Lembaga Riset, serta Gabungan Kelompok Peternak.
Download Sumber Tulisan/Tulisan Lengkap
Sabtu, 18 Juni 2011
Kemitraan Ayam Broiler

Salam bagi para rekan-rekan peternak ayam broiler. Kami dari perusahaan kemitraan ayam broiler menawarkan untuk menjalin kerjasama kemitraan ayam broiler. Insya Allah, sistem kemitraan dengan perusahaan kami bersifat saling menguntungkan dan didasarkan pada asas kejujuran dan saling percaya.
Peternak broiler yang tertarik untuk bekerjasama dengan kami diutamakan di daerah Bandung dan sekitarnya (Rancaekek, Soreang, Cimahi, Banjaran, Ciwidey, Lembang, Padalarang, dll).
Mohon kirimkan data-data peternakan yang dimiliki, seperti :
alamat lengkap, no.telp, no.hp (jika ada), email (jika ada), tenaga kerja yang dimiliki dan pengalamannya, data hasil ternak periode sebelumnya (rata-rata kematian, rata-rata berat, FC, Umur Panen, IP), jaminan keamanan yang ada bagi aset perusahaan (sapronak), jaminan yang diajukan (surat tanah, BPKB, atau uang).
Saya tunggu kerjasama anda bersama kami. Kontak Kami melalui e-mail : tonikomara@gmail.com
Terimakasih dan sukses untuk kita bersama.
Contact Person :
Toni Komara
E-mail :
tonikomara@gmail.com
Alamat :
Ruko No 47 Jl. Mekar Agung Perumahan Mekar Wangi Bandung
Telepon/Fax :
(022) 85240977
HP :
081220888472
Sabtu, 19 Februari 2011
Evaluasi Program Pemuasaan Berselang pada Ayam Pedaging
14.53
No comments
Evaluasi Program Pemuasaan Berselang pada Ayam Pedaging (Evaluation of skip a day feed removal programme on the Broiler Chicken)
(Evaluation of skip a day feed removal programme on the Broiler Chicken)
Muhammad Azhar / I 411 08 271
Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin, Makassar, 90245.
Abstrak
Program pemuasaan berselang (skip a day feed removal programme) pada ayam pedaging bertujuan untuk mencegah kematian ayam pedaging pada fase finisher akibat stress karena panas metabolisme dari konsumsi pakan yang ad libitum, kelainan pada kaki akibat berat badan, dan perlemakan yang banyak. Program ini dilakukan pada 200 ekor ayam ras pedaging strain Cobb Sr 707 selama 12 jam per hari dengan interval 2 hari pada peroide yang berbeda, kelompok A (50 ekor) dipuasakan pada hari ke-10, 12, 14, dan 16 sedangkan kelompok B (25 ekor) dipusakan pada hari ke-22, 24, 26, dan 28 serta terdapat kontrol kelompok A (50 ekor) dan Kontrol kelompok B (25 ekor). Pakan yang diberikan pada fase starter adalah butiran, CP11 (protein 23%, EM 3150 kkal/kg), fase finisher adalah konsentrat dan jagung 33 : 67 (protein 18%, EM 3050 kkal/kg). Produktfitas ayam pedaging yang dipelihara dengan perlakuan pemuasaan berselang pada periode yang berbeda yaitu ayam dengan perlakuan A konsumsi pakan 2561 gr/ekor, pertambahan berat badan 52,6 gr/hari, berat badan akhir 1639,7 gr, konversi pakan 1,56. Dengan perlakuan B konsumsi pakan 3289 gr/ekor, pertambahan barat badan 57,53 gr/hari, barat badan akhir 1773,9 gr, konversi pakan 1,85. Sedangkan Kontrol konsumsi pakan 2700 gr/ekor, pertambahan berat badan 55,3 gr/hari, berat badan akhir 1704,2 gr, dan konversi pakan 1,6.
Kata kunci: Pemuasaan berselang, produktifitas, ayam pedaging, Cobb
PENDAHULUAN
Pemeliharaan ayam pedaging terutama di daerah tropis seringkali menimbulkan masalah yang cukup serius seperti kematian pada akhir pemeliharaan, perlemakan yang banyak, dan kelainan pada kaki. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan pembatasan pakan, pembatasan pakan bertujuan untuk mengurangi panas metabolik dari pakan yang dikonsumsi oleh ayam dan ditambah udara panas akan menimbulkan stress kemudian berlanjut menjadi kematian pada ayam, perlemakan akan berkurang karena setelah dilakukan pemuasaan maka kerja dari sistem pencernaan unggas (ayam pedaging) untuk mengubah pakan menjadi otot/daging akan maksimal, dan kelainan pada kaki tidak akan terjadi jika ayam tidak berada pada berat badan yang maksimal sebelum kaki menjadi kuat. Program yang membatasi pertumbuhan awal ayam pedaging secara luas digunakan untuk mengurangi angka kematian dan juga untuk meningkatkan konversi pakan (Dozier, dkk, 2002). Pembatasan pakan dengan program pemuasaan berselang (skip a day feed removal programme) di daerah tropis belum dapat diaplikasikan secara maksimal karena temperatur di daerah tropis yang dapat berubah secara derastis misalnya pada malam hari yang diprediksi temperatur akan turun namun meningkat/tinggi sehingga dapat menyebabkan kesalahan dalam menentukan waktu pemuasaan. Hal inilah yang melatar belakangi dilakukannya praktikum manajemen ternak unggas mengenai evaluasi program pemuasaan berselang pada ayam pedaging (evaluation of skip a day feed removal programme on the broiler chicken).
MATERI DAN METODE
Sebanyak 200 ekor ayam ras pedaging strain Cobb SR 707 umur sehari berkelamin campuran dipelihara selama 7 hari dalam brooder guard (induk buatan), ayam kemudian dipindahkan kedalam 4 buah kandang kelompok berukuran 2,5 x 3 meter yang diisi masing-masing 50 ekor hingga berumur 35 hari. Dua buah kandang digunakan sebagai control dan dua lainnya diberikan perlakuan pemuasaan berselang selama 12 jam per hari dengan interval 2 hari pada periode yang berbeda. Kelompok A dipuasakan pasa hari ke-10, 12, 14, dan 16, kelompok b dipuasakan pada hari ke-22, 24, 26, dan 28. Untuk mengetahui adanya perbedaan tingkat kepadatan, kelompok B dan kontrolnya dikurangi jumlah ayamnya sebanyak 50% sehingga jumlah ayam yang tersisa hingga akhir percobaan adalah 25 ekor.
Pakan yang diberikan terdiri atas dua jenis pakan yang disusun berdasarkan rekomendasi NRC (1994) (Tabel 1). Pemberian pakan dan air minum dilakukan secara ad libitum. Parameter produktifitas ayam pedaging yang dianalisis antara lain konsumsi pakan, pertambahan berat badan, berat badan akhir, dan konversi pakan.
Tabel 1. Komposisi nutrisi pakan yang digunakan selama penelitian
No.
Jenis Pakan
Komposisi Pakan
Protein (%)
EM (kkal/kg)
1.
Pakan Starter (Butiran, CP11)*
23
3150
2.
Pakan Finisher (konsentrat : jagung, 33; 67)*
18
3050
* Berdasarkan Hasil Estimasi
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil pengamatan terhadap produktifitas ayam pedaging yang diberi perlakuan pemuasaan berselang selama 4 (empat) hari dengan periode yang berbeda dapat dilihat pada table 2.
Tabel 2. Produktifitas ayam pedaging yang dipelihara dengan perlakuan pemuasaan berselang pada periode yang berbeda
Parameter
Perlakuan Pemuasan Berselang
Kontrol
Perlakuan A
Perlakuan B
Konsumsi Pakan (g/e)
2700
2561
3289
Pertambahan Berat Badan (g/hari)
55,3
52,6
57,53
Berat Badan Akhir (g)
1704,2
1639,7
1773,9
Konversi Pakan
1,6
1,56
1,85
Keterangan: A. Perlakuan pemuasaan selama 12 jam pada hari ke-10, 12, 14, dan 16
B. Perlakuan pemuasaan selama 12 jam pada hari ke-22, 24, 26, dan 28
Tingginya rata-rata konsumsi pakan ayam pada perlakuan B (3289 gr/ekor) dibandingkan ayam pada perlakuan A (2561 gr/ekor), karena ayam pada perlakuan ini tidak dilakukan pemuasaan pada fase awal (pertumbuhan) sehingga ayam yang diberi pakan secara ad libitum akan memaksimalkan pakan tersebut untuk pertumbuhan yang cepat, sebab lainnya adalah ayam pada perlakuan tersebut jumlahnya lebih sedikit dari pada jumlah ayam pada perlakuan A sehingga tidak terjadi persaingan dalam mengkonsumsi pakan. Hal Ini tidak sesuai dengan pendapat Anungsaptonugroho (2010) bahwa, ayam broiler pada minggu ke-5 memiliki berat badan 2912 gr/ekor.
Rata-rata pertambahan berat badan ayam pedaging pada perlakuan (B 57,53 gr/hari) lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata pertambahan berat badan pada perlakuan A. Hal tersebut juga berhubungan dengan besarnya konsumsi pakan dari ayam pada perlakuan B memiliki korelasi positif terhadap pertambahan berat badan dan sebab lainnya adalah karena ayam tersebut dipuasakan pada fase starter. Hal ini didukung oleh pendapat Anonim (2007) bahwa, besarnya konsumsi pakan oleh ayam pedaging akan berbanding lurus terhadap pertambahan berat badan tanpa ada faktor lain seperti penyakit.
Rata-rata berat badan akhir ayam pedaging perlakuan B (1773,9 gr). Tingginya berat badan akhir pada ayam tersebut dibandingkan dengan ayam pada perlakuan A berhubungan dengan tingginya konsumsi pakan, hal tersebut disebabkan karena ayam pada perlakuan B tidak dipuasakan pada fase starter sehingga pakan yang dikonsumsi dapat dimaksimal untuk pertumbuhan yang cepat dan ketika terjadi perlemakan maka pertumbuhan akan berlangsung lambat dan hasil akhir dari pertumbuhan yang lambat adalah berat badan akhir yang rendah. Hal ini sesuai dengan pendapat Anungsaptonugroho (2010) bahwa, ayam broiler mengalami pertumbuhan yang berlangsung cepat pada periode starter yang kemudian pertumbuhan akan berlangsung melambat dan terjadi karena penimbunan lemak tubuh.
Rata-rara konversi pakan ayam pedaging pada perlakuan A (1,56) lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata konversi pakan pada perlakuan lain. Hal tersebut disebabkan karena ayam pada perlakuan tersebut dipuasakan pada fase starter dan ketika program pemuasaan telah selesai maka ayam akan berusaha menggantikan konsumsi pakan saat pemuasaan, dengan cara mempercepat conversi pakan yang dikonsumsi secara ad libitum menjadi otot/daging. Hal ini tidak sesuai dengan pendapat Faradis (2009) bahwa, rata-rata konversi ransum ayam pedaging adalah 1,12. Dampak pemuasaan terhadap ayam pedaging adalah menurunnya perlemakan pada ayam pedaging. Hal ini didukung oleh pendapat Santoso, dkk (2008) bahwa, dampak dari program pemuasaan berselang pada ayam broiler adalah menurunnya perlemakan karena pengurangan kadar protein yang tinggi pada pakan ayam broiler yang juga berdampak pada performance dan komposisi tubuh ayam broiler.
KESIMPULAN
Berdasarkan praktikum yang dilakukan mengenai evaluasi program pemuasaan berselang pada ayam pedaging (evaluation of skip a day feed removal programme on the Broiler Chicken) dapat ditarik kesimpulan bahwa program pemuasaan pada fase starter akan meningkatkan kemampuan ayam untuk mengkonversi pakan. Sedangkan pemuasaan pada fase finisher akan meningkatkan kemampuan ayam dalam pertambahan berat badan per hari dan juga menyebabkan tingginya jumlah konsumsi pakan dari ayam yang menyebabkan berat badan akhir yang tinggi. Perlakuan yang tepat diterapkan di Indonesia (daerah tropis) adalah perlakuan B karena mamiliki berat akhir yang tinggi yang sesuai dengan permintaan dari konsumen di Indonesia namun perlakuan tersebut memiliki konversi pakan yang buruk.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2007. Budidaya Ayam Pedaging (Broiler). http://teknis-budidaya.blogspot.com/ 2007/ 10/budidaya-sapi-potong.html. Diakses 27 Mei 2010
Anungsaptonugroho. 2010. Anungsaptonugroho’s Blog. http://anungsaptonugroho.word press. com/. Dakses 27 Mei 2010
Dozier, W. A, dkk. 2002. Effects of Early Skip-a-Day Feed. http://translate.google.co.id/ translate?hl=id&langpair=en|id&u=http://japr.fas.org/cgi/reprint/11/3/297.pdf. Diakses 27 Mei 2010
Paradis, Huda Alfin. 2009. Evaluasi Kecukupan Nutrien pada Ransum Ayam Broiler Di Peternakan Cv Perdana Putra Chicken Bogor. Jurusan Nutrisi dan Makanan Ternak Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro. Semarang
Santoso, Urip, dkk. 2008. Early Skip-a-Day Feeding of Female Broiler Chicks Fed High- Protein Realimentation Diets Performance and Body Composition. https://uripsantoso.wordpress.com/2008/05/04/early-skip-a-day-feeding-of-femalebroil er-chicks-fed-high-protein- realimentation-diets -performance-and-body-composition/.
Sumber : http://chytoxx.blogspot.com/2010/05/evaluasi-program-pemuasaan-berselang.html
(Evaluation of skip a day feed removal programme on the Broiler Chicken)
Muhammad Azhar / I 411 08 271
Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin, Makassar, 90245.
Abstrak
Program pemuasaan berselang (skip a day feed removal programme) pada ayam pedaging bertujuan untuk mencegah kematian ayam pedaging pada fase finisher akibat stress karena panas metabolisme dari konsumsi pakan yang ad libitum, kelainan pada kaki akibat berat badan, dan perlemakan yang banyak. Program ini dilakukan pada 200 ekor ayam ras pedaging strain Cobb Sr 707 selama 12 jam per hari dengan interval 2 hari pada peroide yang berbeda, kelompok A (50 ekor) dipuasakan pada hari ke-10, 12, 14, dan 16 sedangkan kelompok B (25 ekor) dipusakan pada hari ke-22, 24, 26, dan 28 serta terdapat kontrol kelompok A (50 ekor) dan Kontrol kelompok B (25 ekor). Pakan yang diberikan pada fase starter adalah butiran, CP11 (protein 23%, EM 3150 kkal/kg), fase finisher adalah konsentrat dan jagung 33 : 67 (protein 18%, EM 3050 kkal/kg). Produktfitas ayam pedaging yang dipelihara dengan perlakuan pemuasaan berselang pada periode yang berbeda yaitu ayam dengan perlakuan A konsumsi pakan 2561 gr/ekor, pertambahan berat badan 52,6 gr/hari, berat badan akhir 1639,7 gr, konversi pakan 1,56. Dengan perlakuan B konsumsi pakan 3289 gr/ekor, pertambahan barat badan 57,53 gr/hari, barat badan akhir 1773,9 gr, konversi pakan 1,85. Sedangkan Kontrol konsumsi pakan 2700 gr/ekor, pertambahan berat badan 55,3 gr/hari, berat badan akhir 1704,2 gr, dan konversi pakan 1,6.
Kata kunci: Pemuasaan berselang, produktifitas, ayam pedaging, Cobb
PENDAHULUAN
Pemeliharaan ayam pedaging terutama di daerah tropis seringkali menimbulkan masalah yang cukup serius seperti kematian pada akhir pemeliharaan, perlemakan yang banyak, dan kelainan pada kaki. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan pembatasan pakan, pembatasan pakan bertujuan untuk mengurangi panas metabolik dari pakan yang dikonsumsi oleh ayam dan ditambah udara panas akan menimbulkan stress kemudian berlanjut menjadi kematian pada ayam, perlemakan akan berkurang karena setelah dilakukan pemuasaan maka kerja dari sistem pencernaan unggas (ayam pedaging) untuk mengubah pakan menjadi otot/daging akan maksimal, dan kelainan pada kaki tidak akan terjadi jika ayam tidak berada pada berat badan yang maksimal sebelum kaki menjadi kuat. Program yang membatasi pertumbuhan awal ayam pedaging secara luas digunakan untuk mengurangi angka kematian dan juga untuk meningkatkan konversi pakan (Dozier, dkk, 2002). Pembatasan pakan dengan program pemuasaan berselang (skip a day feed removal programme) di daerah tropis belum dapat diaplikasikan secara maksimal karena temperatur di daerah tropis yang dapat berubah secara derastis misalnya pada malam hari yang diprediksi temperatur akan turun namun meningkat/tinggi sehingga dapat menyebabkan kesalahan dalam menentukan waktu pemuasaan. Hal inilah yang melatar belakangi dilakukannya praktikum manajemen ternak unggas mengenai evaluasi program pemuasaan berselang pada ayam pedaging (evaluation of skip a day feed removal programme on the broiler chicken).
MATERI DAN METODE
Sebanyak 200 ekor ayam ras pedaging strain Cobb SR 707 umur sehari berkelamin campuran dipelihara selama 7 hari dalam brooder guard (induk buatan), ayam kemudian dipindahkan kedalam 4 buah kandang kelompok berukuran 2,5 x 3 meter yang diisi masing-masing 50 ekor hingga berumur 35 hari. Dua buah kandang digunakan sebagai control dan dua lainnya diberikan perlakuan pemuasaan berselang selama 12 jam per hari dengan interval 2 hari pada periode yang berbeda. Kelompok A dipuasakan pasa hari ke-10, 12, 14, dan 16, kelompok b dipuasakan pada hari ke-22, 24, 26, dan 28. Untuk mengetahui adanya perbedaan tingkat kepadatan, kelompok B dan kontrolnya dikurangi jumlah ayamnya sebanyak 50% sehingga jumlah ayam yang tersisa hingga akhir percobaan adalah 25 ekor.
Pakan yang diberikan terdiri atas dua jenis pakan yang disusun berdasarkan rekomendasi NRC (1994) (Tabel 1). Pemberian pakan dan air minum dilakukan secara ad libitum. Parameter produktifitas ayam pedaging yang dianalisis antara lain konsumsi pakan, pertambahan berat badan, berat badan akhir, dan konversi pakan.
Tabel 1. Komposisi nutrisi pakan yang digunakan selama penelitian
No.
Jenis Pakan
Komposisi Pakan
Protein (%)
EM (kkal/kg)
1.
Pakan Starter (Butiran, CP11)*
23
3150
2.
Pakan Finisher (konsentrat : jagung, 33; 67)*
18
3050
* Berdasarkan Hasil Estimasi
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil pengamatan terhadap produktifitas ayam pedaging yang diberi perlakuan pemuasaan berselang selama 4 (empat) hari dengan periode yang berbeda dapat dilihat pada table 2.
Tabel 2. Produktifitas ayam pedaging yang dipelihara dengan perlakuan pemuasaan berselang pada periode yang berbeda
Parameter
Perlakuan Pemuasan Berselang
Kontrol
Perlakuan A
Perlakuan B
Konsumsi Pakan (g/e)
2700
2561
3289
Pertambahan Berat Badan (g/hari)
55,3
52,6
57,53
Berat Badan Akhir (g)
1704,2
1639,7
1773,9
Konversi Pakan
1,6
1,56
1,85
Keterangan: A. Perlakuan pemuasaan selama 12 jam pada hari ke-10, 12, 14, dan 16
B. Perlakuan pemuasaan selama 12 jam pada hari ke-22, 24, 26, dan 28
Tingginya rata-rata konsumsi pakan ayam pada perlakuan B (3289 gr/ekor) dibandingkan ayam pada perlakuan A (2561 gr/ekor), karena ayam pada perlakuan ini tidak dilakukan pemuasaan pada fase awal (pertumbuhan) sehingga ayam yang diberi pakan secara ad libitum akan memaksimalkan pakan tersebut untuk pertumbuhan yang cepat, sebab lainnya adalah ayam pada perlakuan tersebut jumlahnya lebih sedikit dari pada jumlah ayam pada perlakuan A sehingga tidak terjadi persaingan dalam mengkonsumsi pakan. Hal Ini tidak sesuai dengan pendapat Anungsaptonugroho (2010) bahwa, ayam broiler pada minggu ke-5 memiliki berat badan 2912 gr/ekor.
Rata-rata pertambahan berat badan ayam pedaging pada perlakuan (B 57,53 gr/hari) lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata pertambahan berat badan pada perlakuan A. Hal tersebut juga berhubungan dengan besarnya konsumsi pakan dari ayam pada perlakuan B memiliki korelasi positif terhadap pertambahan berat badan dan sebab lainnya adalah karena ayam tersebut dipuasakan pada fase starter. Hal ini didukung oleh pendapat Anonim (2007) bahwa, besarnya konsumsi pakan oleh ayam pedaging akan berbanding lurus terhadap pertambahan berat badan tanpa ada faktor lain seperti penyakit.
Rata-rata berat badan akhir ayam pedaging perlakuan B (1773,9 gr). Tingginya berat badan akhir pada ayam tersebut dibandingkan dengan ayam pada perlakuan A berhubungan dengan tingginya konsumsi pakan, hal tersebut disebabkan karena ayam pada perlakuan B tidak dipuasakan pada fase starter sehingga pakan yang dikonsumsi dapat dimaksimal untuk pertumbuhan yang cepat dan ketika terjadi perlemakan maka pertumbuhan akan berlangsung lambat dan hasil akhir dari pertumbuhan yang lambat adalah berat badan akhir yang rendah. Hal ini sesuai dengan pendapat Anungsaptonugroho (2010) bahwa, ayam broiler mengalami pertumbuhan yang berlangsung cepat pada periode starter yang kemudian pertumbuhan akan berlangsung melambat dan terjadi karena penimbunan lemak tubuh.
Rata-rara konversi pakan ayam pedaging pada perlakuan A (1,56) lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata konversi pakan pada perlakuan lain. Hal tersebut disebabkan karena ayam pada perlakuan tersebut dipuasakan pada fase starter dan ketika program pemuasaan telah selesai maka ayam akan berusaha menggantikan konsumsi pakan saat pemuasaan, dengan cara mempercepat conversi pakan yang dikonsumsi secara ad libitum menjadi otot/daging. Hal ini tidak sesuai dengan pendapat Faradis (2009) bahwa, rata-rata konversi ransum ayam pedaging adalah 1,12. Dampak pemuasaan terhadap ayam pedaging adalah menurunnya perlemakan pada ayam pedaging. Hal ini didukung oleh pendapat Santoso, dkk (2008) bahwa, dampak dari program pemuasaan berselang pada ayam broiler adalah menurunnya perlemakan karena pengurangan kadar protein yang tinggi pada pakan ayam broiler yang juga berdampak pada performance dan komposisi tubuh ayam broiler.
KESIMPULAN
Berdasarkan praktikum yang dilakukan mengenai evaluasi program pemuasaan berselang pada ayam pedaging (evaluation of skip a day feed removal programme on the Broiler Chicken) dapat ditarik kesimpulan bahwa program pemuasaan pada fase starter akan meningkatkan kemampuan ayam untuk mengkonversi pakan. Sedangkan pemuasaan pada fase finisher akan meningkatkan kemampuan ayam dalam pertambahan berat badan per hari dan juga menyebabkan tingginya jumlah konsumsi pakan dari ayam yang menyebabkan berat badan akhir yang tinggi. Perlakuan yang tepat diterapkan di Indonesia (daerah tropis) adalah perlakuan B karena mamiliki berat akhir yang tinggi yang sesuai dengan permintaan dari konsumen di Indonesia namun perlakuan tersebut memiliki konversi pakan yang buruk.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2007. Budidaya Ayam Pedaging (Broiler). http://teknis-budidaya.blogspot.com/ 2007/ 10/budidaya-sapi-potong.html. Diakses 27 Mei 2010
Anungsaptonugroho. 2010. Anungsaptonugroho’s Blog. http://anungsaptonugroho.word press. com/. Dakses 27 Mei 2010
Dozier, W. A, dkk. 2002. Effects of Early Skip-a-Day Feed. http://translate.google.co.id/ translate?hl=id&langpair=en|id&u=http://japr.fas.org/cgi/reprint/11/3/297.pdf. Diakses 27 Mei 2010
Paradis, Huda Alfin. 2009. Evaluasi Kecukupan Nutrien pada Ransum Ayam Broiler Di Peternakan Cv Perdana Putra Chicken Bogor. Jurusan Nutrisi dan Makanan Ternak Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro. Semarang
Santoso, Urip, dkk. 2008. Early Skip-a-Day Feeding of Female Broiler Chicks Fed High- Protein Realimentation Diets Performance and Body Composition. https://uripsantoso.wordpress.com/2008/05/04/early-skip-a-day-feeding-of-femalebroil er-chicks-fed-high-protein- realimentation-diets -performance-and-body-composition/.
Sumber : http://chytoxx.blogspot.com/2010/05/evaluasi-program-pemuasaan-berselang.html
Mendeteksi Munculnya Ayam Kerdil
14.51
No comments
Oleh : Drh. Tarmudji MS
Kekerdilan atau Sindroma Kekerdilan (SK) pada ayam sangat merugikan.
Kerena, ayam yang kerdil sulit dijula, konversi pakan yang tinggi dan dapat
mengakibatkan kematian. Walaupun tingkat kematiannya tidak terlalu tinggi. Bagaimana
ciri-cirinya?
Akhir-akhir ini, SK muncul lagi pada beberapa peternakan ayam pedaging
komersial dan pada Broiler breeding farm. Adanya kasus semacam ini menimbulkan
kerugian peternak, karena jumlah ayam kerdil bisa mencapai 10-50 persen dari populasi.
Sebenarnya SK ini sudah pernah terjadi pada tahun-tahun sebelumnya dan
mendapat perhatian dari pihak pemerintah maupun pelaku bisnis perunggasan.
Merebaknya kembali kasus ini setelah wabah Avian Influenza (AI), menimbulkan tanda
tanya. Beberapa kalangan peternak menghubung-hubungkan kasus ini dengan wabah AI.
Karena SK pada ayam kali ini terjadi setelah Indonesia terserang wabah AI.
Penyakit kekerdilan ini pertama kali dilaporkan di Eropa, yaitu di Belanda pada
tahun 1970. Kemudian menyebar ke Inggris (1981), Australia (1980), Amerika Serikat
(1981) dan Asia (1985). Di Indonesia, penyakit kekerdilan, pertama kali dilaporkan oleh Dharma pada tahun 1985. Penyakit yang ditandai dengan gejala ayam menjadi kerdil
(lambat tumbuh) dan bulu sayap terbalik ini dilaporkan terjadi di Bali dan Jawa Timur.
Selanjutnya pada tahun 1998-1999, peneliti Balai Penelitian Veteriner (Balitvet)
melaporkan kejadian kekerdilan pada peternakan ayam di daerah Jawa Barat, Jawa
Tengah dan DI Yogyakarta. Dari hasil penelitian tersebut diperoleh gambaran bahwa,
ayam yang berumur 12 - 31 hari hanya memiliki bobot badan sekitar 125-373 gram.
Penyakit Helikopter
Sindroma Kekerdilan merupakan suatu penyakit, di mana ayam tidak tumbuh dan
berkembang seperti layaknya ayam normal. SK adalah Sindroma pada ayam muda,
terutama ayam pedaging yang ditandai adanya derajat gangguan pertumbuhan (ringan
sampai berat). Sebagai agen spesifik penyebabnya belum diketahui dengan jelas. Namun
dari hasil penelitian menyebutkan bahwa, virus merupakan agen yang bertanggungjawab
terhadap timbulnya penyakit menular ini. Diduga banyak penyebabnya, antara lain,Reo
virus, Rota virus, Parvo virus, Entero virusdan Corona virus.
Reovirus, dapat diisolasi dari jaringan ayam sehat pada umur satu sampai dua
minggu. Manifestasi penyakit setelah infeksi denganre ovirus tergantung pada umur
ayam, strain virus dan rule infeksi. Penularan penyakit dapat terjadi secara horizontal
maupun vertikal. Reovirus dapat diekskresikan dari saluran pencernaan dan pernafasan.
Feses merupakan sumber utama penularan secara horizontal. Anak ayam umur satu hari
lebih peka terhadap reovirus yang ditularkan melalui saluran pernafasan dibanding
penularan secara oral
Banyak nama yang diberikan pada penyakit ini. Yaitu, Infectious Stunting
Syndrome, Helicopter disease, Malabsorption Syndrome, Pale bird Syndromeatau
Brittle bone Syndrome.
Penyakit ini menyerang ayam dan kalkun, baik yang jantan maupun betina.
Dilaporkan hewan yang muda lebih sensitif daripada yang dewasa dan semua jenis ayam
dapat terse rang penyakit ini. Anak ayam yang terserang virus ini memperlihatkan
penurunan laju pertumbuhan yang nyata pada umur 5-7 hari. Dan anak ayam yang
lambat tumbuh alias kerdil ini akan terlihat jelas pada umur dua minggu.
Pertumbuhan bulu yang terhambat, sampai umur 30 hari bulu di bagian bawah
kepala masih berwarna kuning, sehingga disebut dengan “Kepala kuning". Anak ayam
ini juga memperlihatkan abdomen yang menggantung dan nafsu makannya yang sangat
tinggi.
Tangkai bulu sayap primernya nampak patah-patah dan bulunya seperti baling-
baling rotor. Oleh karena itu disebut juga penyakit helikopter (Helicopter Disease).
Menjelang umur 5 minggu, anak ayam yang sakit bisa mencapai 25%, dengan bobot
badan berkisar 250 gram. Dan ukurannya kurang dari separuh ukuran normal dari kawan
sekandangnya. Kotorannya berwarna kuning dan lembek dan menunjukkan adanya
partikel biji-bijian yang tidak dicerna. Ayam yang sakit terlihat malas berjalan karena
adanya sindroma yang mirip rakhitis.
Ayam Kerdil Segera Diatkir
Para ahli melaporkan bahwa, target organ dari SK adalah usus sehingga
menyebabkan gangguan pencernaan berbentuk diare dan lesi pada usus. Anak ayam
biasanya mengalami gangguan proses digesti dan absorbsi berbagai nutrien penting
dalam pakan, yang mendukung berbagai manifestasi penyakit tersebut.
Pada bedah bangkai ayam penderita SK, dijumpai adanya peradangan pada
proventrikulus (proventrikulitis) dan usus (enteritis), atropi/pengecilan dari organ
pankreas,thymus dan bursafabricius. Juga terlihat adanya kelainan pada tulang,
terutamadefect pada tulang paha (femur) sehingga tulang menjadi mudah patah(bri ttle/
os teoporosis).
Secara mikroskopik terlihat pembesaran(hipertropi) dan perbanyakan
(hiperplasia) dari epitel mukosa proventrikulus. Pada usus terjadi enteritis kataralis
berupa pelebaran/dilatasi krypta usus dan atropi villi usus. Pada pankreas terlihat
infiltrasi set-set radang, degenerasi, atropi dan fibroplasi dari jaringan eksokrin.
Diagnosis didasarkan pada sejarah induk-induk muda yang menghasilkan anak
ayam yang sakit dengan gejala klinis khas, yang muncul pada kisaran umur 7-35 hari.
Dan biasanya lebih tepat jika diagnosis dibuat setelah anak ayam berumur lebih dari 14
hari. Pada saat dijumpai adanya sejumlah anak ayam kecil yang mempunyai nafsu
makan yang besar, sangat aktif dan menunjukkan pertumbuhan bulu yang abnormal.
Secara primer, SK ini disebabkan oleh virus, namun ada beberapa jenis bakteri dan
berbagai faktor manajemen yang ikut mendukung terjadinya sindroma tersebut.
Tidak ada pengobatan spesifik untuk penyakit kerdil. Anak-anak ayam yang
sakit/kerdil hendaknya segera diafkir / dikeluarkan sejak umur 14-28 hari. Pemisahan
ayam-ayam yang sakit ini mungkin dapat mengurangi peluang penularan virus secara
lateral. Vaksinasi dilaporkan tidak bisa efektif mengontrol penyakit ini. Peningkatan
sanitasi, pemberian desinfektan yang tepat dan memperhatikan kepadatan kandang
diharapkan dapat mengurangi jumlah ayam yang diafkir. Memperketat kontrol pakan dan
menghindari DOC dari bibit yang muda, dilaporkan dapat mengurangi kasus penyakit
ini.
Drh. Tarmudji MS
Penulis adalah Peneliti pada Balitvet Bogor
Dimuat pada Tabloid Sinar Tani, 7 Juli 2004
Sumber : http://www.scribd.com/doc/41936617/Mendeteksi-Munculnya-Ayam-Kerdil
Kekerdilan atau Sindroma Kekerdilan (SK) pada ayam sangat merugikan.
Kerena, ayam yang kerdil sulit dijula, konversi pakan yang tinggi dan dapat
mengakibatkan kematian. Walaupun tingkat kematiannya tidak terlalu tinggi. Bagaimana
ciri-cirinya?
Akhir-akhir ini, SK muncul lagi pada beberapa peternakan ayam pedaging
komersial dan pada Broiler breeding farm. Adanya kasus semacam ini menimbulkan
kerugian peternak, karena jumlah ayam kerdil bisa mencapai 10-50 persen dari populasi.
Sebenarnya SK ini sudah pernah terjadi pada tahun-tahun sebelumnya dan
mendapat perhatian dari pihak pemerintah maupun pelaku bisnis perunggasan.
Merebaknya kembali kasus ini setelah wabah Avian Influenza (AI), menimbulkan tanda
tanya. Beberapa kalangan peternak menghubung-hubungkan kasus ini dengan wabah AI.
Karena SK pada ayam kali ini terjadi setelah Indonesia terserang wabah AI.
Penyakit kekerdilan ini pertama kali dilaporkan di Eropa, yaitu di Belanda pada
tahun 1970. Kemudian menyebar ke Inggris (1981), Australia (1980), Amerika Serikat
(1981) dan Asia (1985). Di Indonesia, penyakit kekerdilan, pertama kali dilaporkan oleh Dharma pada tahun 1985. Penyakit yang ditandai dengan gejala ayam menjadi kerdil
(lambat tumbuh) dan bulu sayap terbalik ini dilaporkan terjadi di Bali dan Jawa Timur.
Selanjutnya pada tahun 1998-1999, peneliti Balai Penelitian Veteriner (Balitvet)
melaporkan kejadian kekerdilan pada peternakan ayam di daerah Jawa Barat, Jawa
Tengah dan DI Yogyakarta. Dari hasil penelitian tersebut diperoleh gambaran bahwa,
ayam yang berumur 12 - 31 hari hanya memiliki bobot badan sekitar 125-373 gram.
Penyakit Helikopter
Sindroma Kekerdilan merupakan suatu penyakit, di mana ayam tidak tumbuh dan
berkembang seperti layaknya ayam normal. SK adalah Sindroma pada ayam muda,
terutama ayam pedaging yang ditandai adanya derajat gangguan pertumbuhan (ringan
sampai berat). Sebagai agen spesifik penyebabnya belum diketahui dengan jelas. Namun
dari hasil penelitian menyebutkan bahwa, virus merupakan agen yang bertanggungjawab
terhadap timbulnya penyakit menular ini. Diduga banyak penyebabnya, antara lain,Reo
virus, Rota virus, Parvo virus, Entero virusdan Corona virus.
Reovirus, dapat diisolasi dari jaringan ayam sehat pada umur satu sampai dua
minggu. Manifestasi penyakit setelah infeksi denganre ovirus tergantung pada umur
ayam, strain virus dan rule infeksi. Penularan penyakit dapat terjadi secara horizontal
maupun vertikal. Reovirus dapat diekskresikan dari saluran pencernaan dan pernafasan.
Feses merupakan sumber utama penularan secara horizontal. Anak ayam umur satu hari
lebih peka terhadap reovirus yang ditularkan melalui saluran pernafasan dibanding
penularan secara oral
Banyak nama yang diberikan pada penyakit ini. Yaitu, Infectious Stunting
Syndrome, Helicopter disease, Malabsorption Syndrome, Pale bird Syndromeatau
Brittle bone Syndrome.
Penyakit ini menyerang ayam dan kalkun, baik yang jantan maupun betina.
Dilaporkan hewan yang muda lebih sensitif daripada yang dewasa dan semua jenis ayam
dapat terse rang penyakit ini. Anak ayam yang terserang virus ini memperlihatkan
penurunan laju pertumbuhan yang nyata pada umur 5-7 hari. Dan anak ayam yang
lambat tumbuh alias kerdil ini akan terlihat jelas pada umur dua minggu.
Pertumbuhan bulu yang terhambat, sampai umur 30 hari bulu di bagian bawah
kepala masih berwarna kuning, sehingga disebut dengan “Kepala kuning". Anak ayam
ini juga memperlihatkan abdomen yang menggantung dan nafsu makannya yang sangat
tinggi.
Tangkai bulu sayap primernya nampak patah-patah dan bulunya seperti baling-
baling rotor. Oleh karena itu disebut juga penyakit helikopter (Helicopter Disease).
Menjelang umur 5 minggu, anak ayam yang sakit bisa mencapai 25%, dengan bobot
badan berkisar 250 gram. Dan ukurannya kurang dari separuh ukuran normal dari kawan
sekandangnya. Kotorannya berwarna kuning dan lembek dan menunjukkan adanya
partikel biji-bijian yang tidak dicerna. Ayam yang sakit terlihat malas berjalan karena
adanya sindroma yang mirip rakhitis.
Ayam Kerdil Segera Diatkir
Para ahli melaporkan bahwa, target organ dari SK adalah usus sehingga
menyebabkan gangguan pencernaan berbentuk diare dan lesi pada usus. Anak ayam
biasanya mengalami gangguan proses digesti dan absorbsi berbagai nutrien penting
dalam pakan, yang mendukung berbagai manifestasi penyakit tersebut.
Pada bedah bangkai ayam penderita SK, dijumpai adanya peradangan pada
proventrikulus (proventrikulitis) dan usus (enteritis), atropi/pengecilan dari organ
pankreas,thymus dan bursafabricius. Juga terlihat adanya kelainan pada tulang,
terutamadefect pada tulang paha (femur) sehingga tulang menjadi mudah patah(bri ttle/
os teoporosis).
Secara mikroskopik terlihat pembesaran(hipertropi) dan perbanyakan
(hiperplasia) dari epitel mukosa proventrikulus. Pada usus terjadi enteritis kataralis
berupa pelebaran/dilatasi krypta usus dan atropi villi usus. Pada pankreas terlihat
infiltrasi set-set radang, degenerasi, atropi dan fibroplasi dari jaringan eksokrin.
Diagnosis didasarkan pada sejarah induk-induk muda yang menghasilkan anak
ayam yang sakit dengan gejala klinis khas, yang muncul pada kisaran umur 7-35 hari.
Dan biasanya lebih tepat jika diagnosis dibuat setelah anak ayam berumur lebih dari 14
hari. Pada saat dijumpai adanya sejumlah anak ayam kecil yang mempunyai nafsu
makan yang besar, sangat aktif dan menunjukkan pertumbuhan bulu yang abnormal.
Secara primer, SK ini disebabkan oleh virus, namun ada beberapa jenis bakteri dan
berbagai faktor manajemen yang ikut mendukung terjadinya sindroma tersebut.
Tidak ada pengobatan spesifik untuk penyakit kerdil. Anak-anak ayam yang
sakit/kerdil hendaknya segera diafkir / dikeluarkan sejak umur 14-28 hari. Pemisahan
ayam-ayam yang sakit ini mungkin dapat mengurangi peluang penularan virus secara
lateral. Vaksinasi dilaporkan tidak bisa efektif mengontrol penyakit ini. Peningkatan
sanitasi, pemberian desinfektan yang tepat dan memperhatikan kepadatan kandang
diharapkan dapat mengurangi jumlah ayam yang diafkir. Memperketat kontrol pakan dan
menghindari DOC dari bibit yang muda, dilaporkan dapat mengurangi kasus penyakit
ini.
Drh. Tarmudji MS
Penulis adalah Peneliti pada Balitvet Bogor
Dimuat pada Tabloid Sinar Tani, 7 Juli 2004
Sumber : http://www.scribd.com/doc/41936617/Mendeteksi-Munculnya-Ayam-Kerdil













